Legenda Brawijaya di Bumi Nusantara



Dalam cerita tutur setempat, Babad Tanah Jawi dan Serat Kandha kata 'Brawijaya' adalah penamaan gelar Prabu untuk Kerajaan Majapahit, Raja Majapahit menjadi sebuah legenda di dunia masyarakat Jawa. Di beberapa versi cerita tutur penamaan Brawijaya ini jelas menyatakan raja atau pemimpin kerajaan Majapahit bergelar Brawijaya.

Namun, menurut Serat Pranitiradya, yang bernama Brawijaya bukan hanya raja terakhir saja, tetapi juga beberapa raja sebelumnya. Naskah serat ini menyebut urutan raja-raja Majapahit ialah:

- Jaka Sesuruh bergelar Prabu Bratana
- Prabu Brakumara
- Prabu Brawijaya I
- Ratu Ayu Kencanawungu
- Prabu Brawijaya II
- Prabu Brawijaya III
- Prabu Brawijaya IV
- Prabu Brawijaya V

Setelahnya di bumi nusantara gaungnya selalu dikaitkan sebagai keturunan Brawijaya V.

Tetapi, nama Brawijaya ternyata masih menjadi misteri. Nama itu tidak pernah dijumpai di naskah Pararaton atau prasasti-prasasti peninggalan Kerajaan Majapahit.

gelar bhre yang banyak dijumpai dalam Pararaton identik dengan kata bhra. Sedangkan nama Brawijaya berasal dari kata Bhra Wijaya. Gelar bhra adalah singkatan dari bhatara, yang bermakna "baginda". Dengan demikian, Brawijaya dapat juga disebut Bhatara Wijaya.

Brawijaya V dalam Babad Tanah Jawi dan Serat Kandha, diberitakan wafat pada tahun 1478 M akibat serbuan salah satu putranya, Raden Patah. Serat Kandha menyebut Brawijaya V sebagai putra pasangan Damarwulan dan Kencanawungu. Pasangan ini sebenarnya adalah Wikramawardhana dan Kusumawardhani.

Keturunan mereka yang menjadi raja Majapahit adalah Sri Suhita dan Wijaya Parakrama Wardhana dyah Kertawijaya, bertahta 1447 M-1451 M. Berdasarkan urutan raja Majapahit setelah Raden Wijaya, Kertawijaya menempati urutan 5. Maka Kertawijaya disebut sebagai Brawijaya V.

Berdasarkan prasasti Jiyu 1486 M, yang menjadi raja Majapahit adalah Girindrawardhana dyah Ranawijaya, putra bungsu Rajasawardhana dyah Wijayakumara. Dyah Ranawijaya keturunan keenam Raden Wijaya dan Rajapatni dyah Gayatri. Karenanya dapat dikatakan sebagai Brawijaya.

Ini diperkuat catatan Tome Pires, pengembara Portugis yang datang ke Jawa Timur pada 1513 M dan berdiam di Malaka, 1512 M-1515 M, menulis kisah perjalanannya dalam buku Suma Oriental atau Catatan Dunia Timur. Tome Pires menulis, raja Jawa saat itu adalah Batara Vigiaya, dan raja sebelumnya adalah Batara Mataram yang menggantikan ayahnya, Batara Sinagara.

"Tokoh ini lah yang dimaksud Tome Pires sebagai Batara Vigiaya. Ranawijaya yang pernah menjadi Bhre Kertabhumi ini pantas disebut Brawijaya V"

Teori lain berdasarkan naskah kronik China yang ditemukan dalam kuil Sam Po Kong di Semarang yang mengisahkan akhir Kerajaan Majapahit sampai berdirinya Kerajaan Pajang.

Dalam kronik China tersebut, raja terakhir Majapahit bernama Kung-ta-bu-mi. Salah satu putranya bernama Jin Bun yang dibesarkan oleh Swan Liong, putra Yang-wis-si-sa dari seorang selir China. Pada tahun 1478, Jin Bun menyerang Majapahit dan membawa Kung-ta-bu-mi secara hormat ke Bing-to-lo.

Kung-ta-bu-mi merupakan ejaan China untuk Bhre Kertabhumi. Jin Bun dari Bing-to-lo adalah Panembahan Jinbun alias Raden Patah dari Daerah Bintara, Demak. Swan Liong atau kemungkinan ada cerita tutur ejaan dari Jawa Barat yang menyebutkan Khan Liong , kemungkinan pula identik dengan tokoh Arya Damar.

Adapun Yang-wi-si-sa bisa berarti Hyang Wisesa alias Wikramawardhana , atau bisa pula Hyang Purwawisesa. Keduanya sama-sama pernah menjadi raja di Majapahit.

Pada 1486, Nyoo Lay Wa tewas karena unjuk rasa penduduk pribumi. Maka, Jin Bun pun mengangkat iparnya, yaitu Pa-bu-ta-la, menantu Kung-ta-bu-mi, sebagai bupati baru.

Tokoh Nyoo Lay Wa identik dengan penamaan Jaka Suliwa yang tewas karena diracun. dan Pa-bu-ta-la identik dengan Prabu Nata Girindrawardhana alias Dyah Ranawijaya dalam prasasti Jiyu 1486.

Jadi, menurut kronik China tersebut, Dyah Ranawijaya alias Bhatara Wijaya adalah saudara ipar sekaligus bupati bawahan Raden Patah. Dengan kata lain, Bhra Wijaya adalah menantu Bhre Kertabhumi menurut kronik China.

Versi lain lagi, dalam tradisi Jawa ada sebuah Candrasengkala yang berbunyi 'sirna ilang kretaning bumi'. Sengkala ini konon adalah tahun berakhirnya Majapahit dan harus dibaca sebagai 0041, yaitu tahun 1400 Saka, atau 1478 Masehi. Arti sengkala ini adalah "Sirna hilanglah kemakmuran bumi". Namun kemungkinan lebih identik digambarkan oleh candrasengkala tersebut adalah gugurnya Bre Kertabumi, atau Brawijaya V, raja ke-11 Majapahit oleh Girindrawardhana.

Dan versi yang lain lagi, Babad Tanah Jawi menyebut nama asli Brawijaya adalah Raden Alit. Ia naik tahta menggantikan ayahnya yang bernama Prabu Bratanjung, dan kemudian memerintah dalam waktu yang sangat lama, yaitu sejak putra sulungnya yang bernama Arya Damar belum lahir, sampai akhirnya turun takhta karena dikalahkan oleh putranya yang lain, yaitu Raden Patah yang juga saudara tiri Arya Damar.Brawijaya memiliki permaisuri bernama Ratu Dwarawati, seorang muslim dari Campa. Jumlah selirnya banyak sekali. Dari mereka, antara lain, lahir Arya Damar bupati Palembang, Raden Patah bupati Demak, Batara Katong bupati Ponorogo, serta Bondan Kejawan leluhur raja-raja Kesultanan Mataram.

 



 

Forum Sahabat Silat