Sarasehan Pencak Silat Road to UNESCO



Dalam rangka upaya pengajuan Pencak Silat sebagai salah satu Warisan Budaya Non Benda (intangible heritage) ke UNESCO, Yayasan Gapura Whiksa Nusantara akan mengadakan acara “Sarasehan Pencak Silat Road to UNESCO” pada hari Minggu, 16 Maret 2014, pukul 10.00 WIB, di Gedung. Teater Wisma Kemenpora, Jl. Gerbang Pemuda No 3, Jakarta Pusat. Sekitar 100 pendekar, sesepuh dan pemerhati Pencak Silat yang mewakili berbagai daerah di Indonesia diundang dalam acara ini untuk turut merumuskan dan menyusun pendokumentasian sejarah dan budaya Pencak Silat Nusantara.

Penyelenggaraan sarasehan ini merupakan langkah maju dari upaya yang sudah dilakukan untuk memperjuangkan Pencak Silat adalah salah satu kekayaan Nusantara yang tak ternilai agar mendapatkan pengakuan dari UNESCO. Selama ini Kekayaan Budaya Non Benda dari Indonesia yang sudah mendapatkan pengakuan UNESCO adalah Wayang (2003), Keris, (2005), Batik (2009), Angklung (2010), Tari Saman (2011) dan Subak di Bali (2012).

Chairul Fahmi, ketua Yayasan Gapura Whiksa Nusantara (GWN), menyatakan bahwa Pencak Silat tersebar di banyak wilayah nusantara dengan kekhasannya masing-masing. Pencak Silat bukan dimaknai sebagai beladiri semata melainkan sebagai produk budaya yang memiliki makna filosofis kemanusiaan yang tinggi, penuh kerendahan hati, dan bersahaja. “Pencak Silat itu produk budaya khas Indonesia, berbeda dengan Silat yang menjadi budaya Asia Tenggara,” tegas ketua Yayasan GWN yang berpusat di Bandung itu.

Dijelaskan Fahmi, syarat untuk mendapatkan pengakuan UNESCO adalah tersedianya data empirik, data foto masa lampau dan masa sekarang, dokumentasi video, surat dukungan pengajuan dari para pelaku atau masyarakat pendukungnya dan yang terakhir adalah surat dukungan dari instansi pemerintah. “Dalam hal ini Kementerian Pemuda dan Olahraga sudah bersedia memberikan dukungan,” tutur Fahmi.

Mody Afandi, Ketua Tim “Pencak Silat Road to UNESCO” menambahkan, Pencak Silat yang sudah populer di seluruh nusantara ini ternyata masih mengalami keterbatasan literatur tentang sejarah dan dokumentasinya. Hal ini merupakan hambatan tersendiri bagi generasi muda untuk mengenal Pencak Silat lebih seksama. Sementara itu sekian banyak jenis seni beladiri impor terus berdatangan dan menggempur minat generasi muda negeri ini.

Berangkat dari kondisi itulah maka Yayasan GWN membangun gerakan “Pencak Silat Road to UNESCO” bersama dengan Eddie M Nalapraya sebagai Bapak Pencak Silat Indonesia, Kemenpora, PB IPSI, PB PPSI, para pendekar, sesepuh dan pemerhati Pencak Silat untuk merumuskan Pencak Silat sebagai salah satu pilar jati diri bangsa yang mendunia. (*)

 

Jakarta, 14 Maret 2014

Ketua Tim “Pencak Silat Road to UNESCO

Mody Afandi

Mobile: 0878 2306 1288

sumber: kompasiana