Silek Taralak “Angku Pariaman” Desa Balai Batu Sandaran



20120807-silek-bbs-1Balai Batu Sandaran berada dalam administratif Kecamatan Barangin Kota Sawahlunto di Sumatera Barat. Desa yang berada dalam bingkai budaya Nagari Kajai  ini tereletak  ± 15 Km dari pusat Kota Sawahlunto. Masyarakat Nagari Kajai (Desa Balai Batu Sandaran/BBS) masih kental menjaga nilai budaya local setempat. Berbagai atraksi seni  budaya yang diwariskan nenek moyang  sejak dahulunya sebagian besar masih terbina dan teraktualisasi hingga saat ini.

Sebagai bagian wilayah budaya Minangkabau. Desa Balai Batu Sandaran masih memiliki potensi kesenian dan atraksi budaya diantaranya adalah randai, salawat dulang, pidato adat, bakaru, dan juga silat atau Silek dalam sebutan popular Minangkabau.

 

20120807-silek-bbs-2Silek di daerah ini biasanya diajarkan seecara turun temurun kepada anak kemenakan sebagaimana berlaku umumnya di  Minangkabau. Sistim pengajaran silek dilaksanakan di sasaran (lokasi belajar Silat) setelah kegiatan mengaji selesai shalat isya hingga larut malam.  Pada masa dahulu, terutama  anak laki laki Minangkabau kalau  sudah  baligh tidur dan bersiosialisasi di Surau. Surau menjadi sarana dan media belajar banyak hal selain belajar agama.

Silat, dimasalalu merupakan salah satu beladiri yang berkembang pesat di Minangkabau. Seni beladiri Silek di Minangkabau memiliki bebagai macam aliran. Salah satu aliran silat yang masih tumbuh dan berkembang di Desa Balai Batu Sandaran adalah Silek Taralak. Silat lainnya adalah seperti Silek Bungo, Silek Sitopuang Gadang, Silek Pangean,  dan silek baruak.

 

20120807-silek-bbs-3Bapak Idrus Malin Parmato 57 tahun, selaku Tuo Silek di daerah Balai Batu Sandaran mengungkapkan; Silek Taralak masuk ke desa ini sekitar tahun 1920an. Kala itu ada seorang fakir (pakiah) yang belajar mengaji di daerah Tanjung Balik di Kabupaten Solok. Setiap hari Kamis ia datang berkeliling nagari Kajai untuk meminta sumbangan sukarela. Itulah caranya mencari kebutuhan hidup selama menuntut ilmu atau selama tinggal di Surau atau Mesjid. Ia berada bahkan selama beberapa hari nagari Kajai. Selama berada disini, ia mengajarkan Silek Taralak ke para pemuda desa hingga hari Sabtu setiap minggunya. Namun siapa nama sang pakiah si guru silat itu tidak diketahui nama aslinya. Karena  ia berasal dari daerah Pariaman para murid atau anak sasiannya memanggil  dengan sebutan “Angku Pariaman”. Bapak Idrus, melanjutkan cerita asal muasal Silek Taralak di Balai Batu Sandaran ini.  Angku Pariaman mengajarkan Silat Langkah Ampek beliau juga mengajarkan Silek Biso dan Silek Kapak yang merupakan bagian dari jurus andalan dan kebangaan bagi muridnya. Jurus itu diperoleh tentunya setelah menguasai menguasai seluruh bagian Silek Taralak tersebut.

20120807-silek-bbs-4Bagaimana perkembangan silat di Minangkabau di hari ini? Sepertinya memiliki keterkaitan dengan perkembangan aktivitas dan fungsi Surau. Filosofi anak lelaki baligh agar tidur di Surau sudah menitipkan agenda untuk belajar banyak hal. Bukan hanya soal agama tapi juga adat budaya termasuk untuk belajar silat. Sebagai bekal paga diri dalam menghadapi ancaman terlebih ketika berada di rantau. Pesan anak laki-laki Minang haruslah merantau tentu mendorong mereka belajar dan  bisa juga bersilat. Bagaimana dengan surau, semangat ka sura dan aktivitas surau generasi muda Minangkabau hari ini? Wallahu’alam.
20120807-silek-bbs-5



Bakaru atau karu merupakan ritual tolak bala disertai maureh yang dilaksankan kala menyambut bulan dan setelah Ramadhan.

sumber: palantabudaya