Pencak Silat sebagai Icon Nation dan Character Building - Juara II



Pencak Silat sebagai Icon Nation dan Character Building
oleh: Moch. Nur Rofiq, 21thn, Kediri

( Juara II Lomba Penulisan Artikel Silat )

Pada era globalisasi ini, bangsa Indonesia menghadapi tantangan cukup berat, terutama dalam menghadapi era persaingan di segala bidang yang sangat ketat. Untuk menghadapi tantangan tersebut, bangsa Indonesia perlu mempersiapkan masyarakat yang sehat, bugar, berprestasi, produktif, beretos kerja tinggi, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemuliaan. Hal itu dapat diperoleh dengan salah satunya melakukan kegiatan olahraga. Olahraga merupakan wahana yang efektif  dan strategis dalam menciptakan masyarakat yang sportif dan madani.

Partisipasi yang tinggi dalam bidang olahraga disebabkan karena olahraga dapat memberikan peningkatan kesempatan yang ideal untuk menyalurkan tenaga yang baik dalam lingkungan persaudaraan dan persahabatan untuk persatuan yang sehat dan suasana yang akrab dan  gembira, menuju kehidupan serasi, selaras, dan seimbang untuk mencapai kebahagiaan hidup yang sejati.

Diantara cabang olahraga yang ada dan cukup banyak dilakukan oleh masyarakat adalah olahraga bela diri pencak silat. Pencak silat adalah olahraga asli hasil budaya manusia Indonesia, untuk membela, mempertahankan eksistensi dan integritas terhadap lingkungan hidup dan alam sekitarnya, untuk mencapai keselarasan hidup, guna meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Hal tersebut mengandung makna, bahwa pencak silat mengajarkan pengenalan diri sebagai insan atau mahluk hidup, yang percaya atas adanya kekuasaan yang lebih tinggi, yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Pencak silat didalam intensitasnya terdiri dari olahraga rekreasi, olahraga prestasi dan olah raga masal.

Pencak Silat sebagai seni, harus menuruti ketentuan-ketentuan, keselarasan, keseimbangan  dan keserasian, antara wirahma, wirasa dan wiraga. Sementara sebagai olahraga masal yang  bersifat penyegaran jasmani, telah menghasilkan program Senam Pagi Indonesia, yang hingga saat ini masih sering dilakukan oleh masyarakat, khususnya di setiap jenjang persekolahan.

Filososfi ”ilmu padi” dalam dunia pencak silat perlu sekali ditanamkan, yaitu semakin tinggi ilmu yang dimiliki oleh pesilat, maka ia akan semakin merunduk. Hal ini bisa di lihat dengan selalu mengembangkan, antara lain:


  1. Rasa mulad sariro hangroso wani, artinyabahwa pesilat selalu berani berintropeksi  atas  dirinya.

  2. Ing ngarso sung tulodho, artinyabahwa pesilat selalu memberi suri tauladan saat memimpin.

  3. Ing madyo mangun karso, artinyabahwa pesilat selalu memberi semangat  saat berada  ditengah dan memberikan dorongan.

  4. Tut wuri handayani, artinyabahwa  pesilat selalu mengikuti dari belakang untuk memberi kekuatan (daya) kepada masyarakat/ orang lain.


Dunia olahraga pencak silat selalu syarat dengan makna filosofis. Dalam filsafat ilmu tidak dapat dipungkiri bahwa berfilsafat merupakan manifestasi kegiatan intelektual yang telah meletakkan dasar-dasar paradigmatik bagi tradisi dalam kehidupan masyarakat ilmiah. Olahraga pencak silat memiliki nilai-nilai positif dalam olahraga, karena dalam olahraga merupakan mikro kosmos yang menentukan pokok-pokok dan mencerminkan nilai-nilai sosial. Nilai-nilai yang terungkap dalam olahraga,  selanjutnya akan menggambarkan fungsi olahraga dalam masyarakat. Nilai-nilai sosial itu pada akhirnya akan kembali dan yang menikmati adalah masyarakat pelakunya sendiri.

Dalam perspektif pendidikan, saat ini Kemendiknas sedang  menggiatkan pentingnya pendidikan karakter bagi siswa/ peserta didik. Olahraga pencak silat sesuai dengan dasar  filosofinya berdaya guna dan multiguna untuk menumbuh kembangkan karaker yang mulia.  Untuk itulah penelitian ini akan mengungkap nilai-nilai esensial olahraga pencak silat dalam  kontribusinya membentuk karakter.

Pencak silat pada dasarnya adalah beladiri yang mempunyai empat nilai sebagai satu kesatuan, yaitu nilai etis, teknis, estetis dan atletis. Nilai-nilai tersebut selain merupakan nilai pencak silat juga merupakan corak khas dan keistimewaan pencak silat yang bersumber dari budaya masyarakat rumpun melayu.

  1. Nilai etis adalah nilai kesusilaan pencak, secara implisit terkandung nilai agama, nilai sosial budaya dan nilai moral yang dijunjung tinggi oleh masyarakat.

  2. Nilai teknis adalah kedayagunaan pencak silat ditinjau dari kebutuhan dan kepentingan beladiri berdasarkan logika.

  3. Nilai estetis adalah nilai keindahan pencak silat berdasarkan estetika. Nilai atletis adalah  nilai keolahragaan berdasarkan aturan keolahragaan. Dengan memiliki konsep yang mendasar  dari ajaran falsafah budi pekerti luhur, memahami akan makna esensial dari aspek dan nilai-nilai yang terkandung dalam pencak silat, maka upaya penanaman nilai-nilai etika melalui pencak silat ini akan dapat tercapai.


Pada hakikatnya pencak silat mempunyai 4 aspek yang tidak dapat dipisah-pisahkan antara

satu dengan lainnya, yaitu:

a)      Aspek mental spiritual yang menggambarkan sifat dan tujuan  pembentukan

sikap  dan mental manusia pencak silat

b)      Aspek bela diri yang menggambarkan sifat dan tujuan pembelaan diri dengan

menggunakan teknik dan atau jurus yang khas pencak silat.

c)      Aspek seni yang menggambarkan sifat dan tujuan untuk menampilkan keindahan

dan kekayaan teknik atau jurus pencak silat yang beraneka ragam.

d)     Aspek olahraga menggambarkan sifat dan tujuan keolahragaan pencak silat baik

untuk kebugaran, ketangkasan, dan ketahanan jasmani serta berprestasi secara  maksimal.

 

Budi pekerti luhur merupakan salah satu jati diri pencak silat sebagai jiwa dan sumber motivasi. Pencak silat dilaksanakan dan digunakan secara bertanggung jawab sesuai dengan falsafahnya yang mengandung keluhuran sikap, perilaku dan perbuatan manusia yang  diperlukan untuk mewujudkan cita-cita agama dan moral masyarakat. Budi terkait dengan  aspek kejiwaan yang mempunyai unsur cipta, rasa dan karsa. Pekerti artinya watak atau  akhlak, sedangkan luhur artinya mulia atau terpuji.

Jadi falsafah budi pekerti luhur adalah falsafah yang menentukan ukuran kebenaran, keharusan dan kebaikan bagi manusia atau orang yang mempelajari, melaksanakan dan menggunakan ilmu pencak silat, baik dalam bersikap, berbuat, dan bertingkah laku. Manusia sebagai makhluk Tuhan wajib  mematuhi dan melaksanakan secara konsisten dan konsekuen nilai-nilai ke-Tuhan-an dan  keagamaan,  baik secara vertikal maupun horizontal. Amalan yang terkandung dalam falsafah budi pekerti luhur pencak silat adalah pengendalian dalam arti :

  1. Rasa keterikatan (sence of commitment) kepada kaidah-kaidah, nilai-nilai dan cita-cita agama dan moral masyarakat.

  2. Sikap tanggap  (responsif) dan arif kepada setiap gelagat perkembangan, tuntutan dan tantangannya.

  3. Sikap tangguh (firm) dan dapat mengembangkan kemampuan di dalam menghadapi dan mengatasi tantangan.

  4. Sikap disiplin dan tahan uji di dalam menghadapi berbagai godaan dan cobaan.

  5. Sikap dinamis dan kreatifdalam upaya mencapai keberhasilan.


Kelima amalan tersebut merupakan isi dari ajaran falsafah budi pekeriti luhur yang dijiwai oleh nilai-nilai budaya masyarakat rumpun melayu. Selain itu, kelima amalan tersebut sering disebut dengan istilah 5T yang meliputi :

a)      Taqwa berarti beriman kepada Tuhan Yang  Maha  Esa.

b)      Tanggap adalah  peka, peduli,  antisipasif,  proaktif dan mempunyai kesiapan diri

terhadap setiap perubahan   dan perkembangan yang terjadi berikut semua kecenderungan, tuntutan dan meningkatkan  kualitas diri.

c)      Tangguh adalah keuletan pantang menyerah dan sanggup mengembangkan

kemampuannya dalam menjawab tantangan dalam menanggulangi demi menegakkan  kebenaran, kejujuran dan keadilan.

d)     Tanggon adalah tahan uji terhadap segala godaan  dan cobaan yang mempunyai rasa

harga diri dan kepribadian yang tebal,  penuh perhitungan  dalam bertindak, berdisiplin dan tanggung jawab serta mentaati norma-norma hukum, sosial  dan  agama.

e)      Trengginas adalah energik, aktif, kreatif, berpikir ke masa depan dan mau bekerja

keras untuk mengejar kemajuan yang bermanfaat bagi diri dan masyarakat berdasarkan sikap kesediaan untuk membangun diri dan rasa tanggung jawab atas pembangunan masyarakat.

 

Falsafah budi pekerti luhur berkaitan erat dengan pembentukan karakter pesilat, karena hal tersebut memberi landasan untuk membentuk sikap dan perilaku pesilat dalam upaya pencapaian kedisiplinan dan penanaman etika yang baik. Nilai-nilai luhur pencak silat  merupakan dasar untuk membentuk manusia yang beretika tinggi dan mempunyai disiplin terhadap diri sendiri dan lingkungannya dalam hal menjalankan tugas kewajiban yang diemban.

Kegiatan olahraga pencak silat bila dihubungkan dengan sikap para pelakunya terhadap keberadaan bangsa dan negaranya dapat memberikan sumbangan yang cukup besar dan bersifat positif. Olahraga merupakan sarana pembuat karakter yang penting bagi setiap insan manusia.  Maka dari itu, sebaiknyalah para orang tua mengajak anak-anaknya untuk berolahraga. Di dalam berolahraga tiap-tiap pelakunya akan saling  berinteraksi dengan pelaku lainnya, dengan aturan-aturan yang disepakati dan dengan etika-etika yang diberlakukan yang kesemuanya saling mengikat.

Tujuan akhir olahraga pencak silat adalah terletak dalam peranannya sebagai wadah unik penyempurnaan watak, dan sebagai wahana untuk memiliki dan membentuk kepribadian yang kuat, watak  yang baik dan sifat yang mulia, hanya orang-orang yang memiliki kebajikan moral seperti  inilah yang akan menjadi warga masyarakat yang berguna.

Dalam dunia olahraga pencak silat untuk mencapai prestasi secara optimal perlu dikembangkan budaya sinergis berbagai unsur yang berkarakter, antara lain sinergis dari  lembaga pendidikan, lembaga pemerintahan, dan stakeholder. Pencapaian prestasi merupakan salah satu perwujudan dari pilar olahraga prestasi. Tripilar olahraga sebagai penyangga pencapaian prestasi, kebugaran dan pendidikan anak bangsa yang berkarakter terdiri dari pengembangan olahraga prestasi, olahraga rekreasi dan olahraga pendidikan.

Sebagai sebuah fenomena sosial dan kultural, olahraga pencak silat tidak bisa melepaskan diri dari ikatan moral kemodernan, yang kompleks. Penerimaan eksistensinya secara  sosiologis dijamin oleh kemampunnya menyesuaikan diri dengan masyarakat, atau   sebaliknya, masyarakat yang akan menjadikannya sebagai sasaran ekstensifikasinya. Langkah  strategis untuk mengembangkan, penanaman moral, dan pembentukan karakter melalui  olahraga pencak silat adalah dengan menjadikan prestasi. Hal ini seiring dengan  perkembangan dunia yang semakin kompleks dan penuh akulturasi.

Dengan begitu diharapkan pembelajaran olah raga bela diri terutama pencak silat dapat digunakan sebagai modal dalam menghadapi efek-efek yang dibawa oleh globalisasi. Sehingga masyarakat Indonesia memilik karakter yang kuat dan tangguh dalam menyeleksi setiap hal yang baru sebagi dampak dari globalisasi. Dengan membelajarkan olah raga pencak silat secara tidak langsung masyarakat Indonesia pula melestarikan dan mempertahankan kebudayaan asli bangsa Indonesia. Jadi, dengan belajar pencak silat kita mendapat 2 manfaat yaitu sebagai pembentukan karakter manusia dan mempertahankan icon nasional bangsa Indonesia.

 

 



 

Forum Sahabat Silat