Mitos Mata Maung dari Silat Sunda Peninggalan Padjadjaran - Juara I



Mitos Mata Maung dari Silat Sunda Peninggalan Padjadjaran
oleh: Alamsyah, Jakarta

( Juara I Lomba Penulisan Artikel Silat )

Tidak ada alat memadai untuk mengukur zat energi  gaib yang bersifat non-inderawi, karena lebih halus dari zat non partikel  dan dapat menembus apapun, dan lebih cepat daripada gerak-layang komet, sekalipun seakan-akan tidak terikat oleh ruang dan waktu, sehingga semuanya akan terlihat ajaib oleh manusia-manusia yang membatasi logikanya dan pemikirannya.

Semua ilmuwan menyadari  bahwa kenyataan di dunia masih banyak yang belum terjangkau  oleh akal manusia. Apalagi tentang fenomena-fenomena ajaib yang sering menyentuh alam manusia secara nyata, karena sebagian telah digunakan dan dimanfaatkan manusia sebagai kekuatan menaklukkan alam lingkungan yang terkadang disebut sihir atau mistik oleh masyarakat awam.

Begitu juga yang terjadi  dengan silat tradisional di negeri nusantara, yang keberadaannya mulai dipojokkan oleh masuknya beladiri-beladiri asing dengan menggunakan kata-kata silat tradisional terkesan mistis.

Makna “Mistis” kadang  terdengar sebagai sesuatu yang kuno dan sangat berbahaya dalam mengganggu akidah bagi umat yang beragama melarang sihir atau sejenisnya.

Sebenarnya beberapa silat tradisional menganggap keilmuan mereka adalah hanya semata-mata sebuah hasil dari suatu tuntunan atau metode dengan latihan yang tekun. Adapun hal ini beberapa perguruan  menyatakan menggunakan konsep “Getaran” , “Energi Tubuh”, “Keseimbangan” , ”Gerak”,  “Rasa” dan lain sebagainya, sebagai konsep PERTAHANAN atau BELADIRI.

“Dalam Ilmu Alam arus listrik akan mengalir menuju sasarannya jika keadaannya homogen ; dan sebaliknya jika ada tahanan jenis, maka gaya itu akan terganggu atau menjauhinya”

Kekuatan  pertahanan ini dapat menolak arus negatif dari gaya  atau kekuatan energi itu menjauhinya. Walau kekuatan pertahanan ini dapat berlaku sebaliknya tergantung sistem yang dibuat untuk mengaturnya.

Mereka yang berbakat alam (supranatural) diyakini sebagian orang sebagai potensial alami seakan-akan memiliki pancaran magnetik yang mengalir dari darahnya berupa cahaya atau tenaga magic yang lain. Mungkin pada manusia biasa kekuatan itu perlu digali dengan tuntunan atau metode dan latihan yang tekun.

Salah satu dari sekian banyak aliran silat tua di negeri  nusantara ini, penulis akan menyempitkan pandangan  pembaca kepada salah satu perguruan dari aliran tua peninggalan padjadjaran di Bogor daerah Jawa Barat (sunda) yang bersimbol Harimau atau lebih dikenal MAUNG (saya sengaja tidak menulis aliran /perguruan tersebut). Dan saya memfokuskan pada latihan mata pada perguruan di daerah bogor ini. Dari pola latihan mereka saya pribadi melihat suatu sisi yang menarik adalah pola latihan mata menggunakan teknik maung.

Orang jawa sendiri menyadap kata “Wyaghra” dari bahasa Sansekerta yang mengandung arti harimau  atau pahlawan. Dalam pustaka Pararatwan i Bumi Jawadwipa Purwa I sarga 1, dikisahkan bahwa Purnawarman yang selalu unggul dalam peperangan itu dijuluki” Wyaghra Ning Tarumanegara “atau “Harimau Tarumanegara”.Silihwangi pun diidentikan dengan simbol “Maung” atau Harimau dalam bahasa sunda

Anak harimau terlahir buta dan Mata anak harimau baru membuka pada hari kesepuluh. Mata harimau ini dapat melihat dengan tajam dan dapat melihat dalam cahaya yang amat terang. Mereka memiliki selaput pelangi atau iris membentuk celah pada mata yang akan menyempit. Meskipun demikian penyempitan ini juga mengurangi bidang pandang harimau sehingga lebih fokus. Suatu organ yang disebut “tapetum lucidum” yang ada di mata harimau ini dapat digunakan dalam lingkungan  dengan sedikit cahaya. Konon mata harimau ini dapat menghipnotis mangsanya.

Yang menarik pada latihan mata pada perguruan di daerah bogor ini yang merupakan salah satu aliran tua peninggalan padjadjaran yang bersimbol Harimau atau lebih dikenal MAUNG ini, adalah memainkan jurus-jurusnya sambil memainkan teknik konsentrasi kekuatan mata dan kelopaknya secara seirama.

Dari pembicaraan dengan salah seorang gurunya, penulis mendapatkan bahwa mata adalah merupakan sarana penyalur tenaga yang dikeluarkan dari pikiran dan jiwa. Pancaran tenaga ini berjenis-jenis menurut kegunaannya masing-masing. Dan zat yang memancar dari mata itu sudah barang tentu tidak dapat terukur, karena masih termasuk zat gaib yang berasal dari dalam tubuh manusia atau pancaran itu merupakan asimilasi dari dalam tubuh dengan alam luar. Dan banyak mitos-mitos dari legenda-legenda negeri padjadjaran yang menggunakan “Kekuatan Mata”.

Kita beralih kepada ilmu logika yang kita miliki, menurut teknologi/ilmu  Gaya suatu benda mempunyai bermacam-macam tenaga, yaitu :


  1. Tenaga Tempat ( Tenaga Potensial)

  2. Tenaga Gerak (Tenaga Kinetik)

  3. Tenaga Panas (Tenaga Kalor)

  4. Tenaga Cahaya

  5. Tenaga Listrik

  6. Tenaga Kimia


Apabila didalam diri seseorang misalnya terdapat tenaga kinetik yang sanggup menguasai benda-benda, maka tentunya kita akan sanggup memerintahkan benda-benda itu untuk bergerak menurut kehendak kita melalui pandangan mata. Tentunya didalamnya bekerja kekuasaan  diri yang sanggup dituruti perintahnya.

Seorang juru magnetis  pada jaman dahulu, konon sanggup memproduksi panas didalam dirinya. Yang dapat disalurkan melalui telapak tangannya untuk keperluan pengobatan, yakni memberikan tenaga hayat.

Dalam clairvoyance kita dialiri oleh tenaga cahaya yang ajaib melalui pancaran indera mata kita, sehingga sanggup melihat sesuatu dari jarak yang jauh.

Semuanya itu adalah tenaga yang tersimpan didalam diri manusia, yang pada saat dan gelombang yang tepat, bergerak dari tempatnya untuk menunjukkan keajaibannya. Jika tenaga itu tidak bekerja menurut hukum ilmu logika yang didapat dari kenyataan sehari-hari yang kita miliki menurut hukum ilmu alam, maka peristiwa itu disebut peristiwa ajaib. Malah oleh orang-orang awam dianggap “Sihir” atau “Mistis”.

Dalam ilmu Sihir menggunakan kekuatan dari mata juga merupakan salah satu bagian/indera yang penting, disamping alat-alat yang lain.

Pancaran perasaan mengalir melalui matam yang dalam psikologi kita dapat membaca perubahan perasaan dalam mata seseorang. Mata merupakan pintu ajaib untuk menaklukkan seseorang, menarik seseorang atau mengikat seseorang, karena seakan-akan merupakan moncong senjata ajaib. Pancaran seseorang yang memiliki tenaga getaran ajaib yang terlatih , tentu berbeda dengan pancaran mata orang lain.

Dalam pelatihan silat tradisional penulis beruntung menjumpai suatu perguruan/aliran yang masih eksis menggunakan teknik latihan “Mata Maung” dari silat sunda peninggalan  Padjadjaran dengan pelatihan-pelatihan yang masih tergolong kuno. Mereka pun masih menutup diri dengan memberikan teknik-teknik keilmuan “Mata Maung” hanya untuk murid-murid pilihan/khusus. Saat mereka menerangkan penulis tidak tahu persis secara detail bagaimana dan berapa lama teknik pelatihan “Mata Maung’ tersebut, dan percaya atau tidak tentang ilmu kuno ini tapi itulah adanya !

-------------------00----------------