Lingkar Manfaat Pencak Silat dalam Kehidupan Kita



Lingkar Manfaat Pencak Silat dalam Kehidupan Kita
oleh: Yudianto, 45, Kudus

( Juara Harapan  Lomba Penulisan Artikel Silat )

 

Pencak silat dengan segala bentuk, warna, aliran dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya telah menyatu dalam sejarah panjang kehidupan manusia di bumi Nusantara. Perkembangannya melalui beragam cara. Ada yang berkembang secara formal, ada pula yang berkembang secara informal. Semua itu tidak lepas dari lingkungan dan pola hidup masyarakat  yang berbeda.

Dalam realitas kehidupan masyarakat, pencak silat sering kali dijadikan sebagai penyaluran hobi dalam mengisi waktu senggang. Akan tetapi, ada pula yang menekuninya demi persiapan  memasuki dan mengembangkan sebuah karier atau pekerjaan. Banyak posisi kerja yang bisa diraih dengan cepat, berkat kemampuan seseorang dalam bidang olah raga pencak silat.

Lalu, hanya sebatas itukah manfaat pencak silat  dalam kehidupan kita?

A. Perspektif  Manfaat Individual

Mendiskusikan nilai guna pencak silat dalam kehidupan sesungguhnya membicarakan masalah hubungan pencak silat dengan diri pribadi seseorang. Dalam perspektif  ini, ragam dan bobot atas manfaat pencak silat amat ditentukan oleh cara pandang orang yang bersangkutan.  Tergantung manfaat apa yang bisa diperoleh dari  pencak silat dalam kehidupan masing-masing individu. Dengan demikian, tentu ragam nilai guna pencak silat jelas sangat banyak.

Toh demikian, bila kita menengok pada pemikiran Abraham Maslow dan mencoba memodifikasikanya, maka  pencak silat memiliki relevansi yang kuat terhadap upaya pemenuhan kebutuhan manusia. Di antaranya adalah pemenuhan untuk :

 


  • Kebutuhan Fisiologis. Kebutuhan fisiologis terhadap pangan, sandang dan papan  mungkin secara langsung memang tidak bisa dipenuhi lewat pencak silat, Akan tetapi pencak silat dapat dipergunakan untuk menggapai banyak jenis pekerjaan bagi seseorang. Khususnya  berbagai pekerjaan yang memiliki kaitan dengan ketrampilan seseorang dalam bela diri.


Misalnya saja pekerjaan   sebagai satuan pengamanan, staf pengawalan ataupun debt collector.  Melalui pekerjaan semacam itulah pencak silat secara tidak langsung mampu memenuhi beragam kebutuhan dasar manusia.

Begitu pula apa yang dialami, Suratmin, pemuda asal Takeran, Magetan Jawa Timur merupakan salah satuh contoh konkretnya.  Jerih payah dan ketekunan untuk menguasai ketrampilan bela diri melalui sebuah Perguruan Pencak Silat Ki Ageng Pandan Alas (PA) selama beberapa tahun. telah memberikan pengalaman yang berarti dalam kehidupannya. Pekerjaan pertamanya sebagai anggota satuan keamanan di sebuah perusahaan otomotif ternama di bilangan Tanjung Priok Jakarta, justru diraihnya lantaran ketrampilan menguasai seni bela diri pencak silat. Dirinya merasa bersyukur, ketrampilan pencak silat ternyata menjadi salah satu senjata andalan dalam meraih pekerjaan.

Bahkan saat  dicoba kemampuannya dalam mengunci lawan yang bersenjata tajam pun, dirinya berhasil  mendemonstrasikannya dengan  lancar. “Untung,  sudah saya persiapkan diri dengan baik,” ujarnya polos sesaat dirinya dinyatakan lulus dari seleksi .

 

  • Kebutuhan Rasa Aman


Seringkali salah satu motivasi yang cukup kuat untuk menggeluti olah raga pencak silat adalah terpenuhinya kebutuhan rasa aman seseorang. Rasa aman ini bisa dikaitkan dengan adanya ancaman terhadap keamanan diri seeorang, baik secara fisik maupun psikis.

Kebutuhan rasa aman ini akan terpenuhi, salah satunya lewat penguasan ketrampilan bela diri pencak silat. Dengan menguasai berbagai ketrampilan dasar untuk menangkal ancaman secara fisik, tentu keyakinan diri akan kemampuan pribadi mengatasi persoalan dan tantangan kehidupan akan meningkat.

Begitu pula motivasi dari Masdarman, pedagang kelontong di daerah Jati, Kudus Jawa Tengah, yang sempat mengeluti pencak silat karena tuntutan rasa aman yang tinggi. Betapa tidak, saat itu dirinya bekerja sebagai tukang ojek yang mangkal di Terminal Bus Kudus dan memiliki jam operasional malam hari.

Dalam menjalankan profesinya, seringkali dia harus mengantarkan penumpang dengan tujuan luar kota dan terkadang harus melewati lingkungan yang rawan tindak kejahatan. “Wah, kalau tidak siap secara fisik dan mental, ya jelas nggak berani!” akuinya saat ngobrol di teras rumahnya beberapa waktu lalu.

Mantan anggota Satuan Keamanan Taman Safari Cisarua Bogor itu, juga menjelaskan bahwa tempaan dalam masa berlatih pencak silat telah membentuk karakter pribadinya yang tidak menghindar bila ada ancaman yang menghadang.

Tak heran bila lelaki bertubuh besar ini, pernah berduel sampai berdarah-darah dengan penjahat yang mencoba merampas sepeda motornya sehabis mengantar seorang penumpang di suatu malam. Bahkan dengan seorang diri berani melabrak segerombolan preman yang mengancam keselamatan jiwa salah satu anggota keluarganya.

Ketrampilan pencak silat yang dikuasainya, diajarkan secara informal oleh kakak kandungnya sendiri yang kebetulan  telah diajari dan diwisuda oleh seorang pendekar sepuh yang merangkap guru mengaji di kampung.

 

  • Kebutuhan Hidup Sehat


Kebutuhan rasa aman dari gangguan penyakit juga menjadi salah satu factor utama seseorang  untuk mengeluti dunia pencak silat. Dalam perspektif inilah maka motivasi untuk memperoleh kesembuhan dari suatu penyakit ataupun menjalani kehidupan yang penuh kebugaran  merupakan bentuk kebutuhan manusia yang vital dan tak terbantahkan.

Karena alasan itulah, Miyatun, seorang wanita berusia 48 tahun yang menderita pelemahan otot tangan akut karena “syaraf terjepit” pernah mengikuti aktivitas pencak silat dalam kelas khusus kesehatan, di Padepokan Perguruan Silat Betako Merpati Putih (MP) yang cukup dikenal dengan latihan olah pernafasannya.

Dengan makin bertambahnya kesadaran terhadap kesehatan serta keinginan berobat secara non medis, maka akan semakin banyak pula anggota masyarakat  yang mengikuti pencak silat dengan motivasi utama terpenuhinya kebutuhan akan kesehatan ini.

 

  • Kebutuhan Afiliasi


Pada prinsipnya manusia adalah makluk sosial, makluk yang membutuhkan interaksi  dan berkumpul dengan orang lain. Tanpa kehadiran orang lain, manusia tentu akan kesulitan menjalani rutinitas kehidupannya.

Begitu juga bagi banyak individu yang bergabung dengan Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT), sering termotivasi oleh adanya kebutuhan untuk ngumpuli konco, mencari banyak teman dan membangun persaudaran. Paling tidak. itulah yang dialami Dikun, seorang buruh tani yang menjalani kehidupan sederhana di desanya, Banjarsari Kabupaten Madiun.

Walaupun tidak lulus SMA, dirinya tidak pernah merasa minder. Dalam pergaulan dirinya tampak cool and funny. Kemampuan berinteraksi sosialnya tidak perlu diragukan. sehingga tidak aneh bila dirinya juga  mampu menjadi inspirator bagi pemuda di desanya dalam kegiatan  olah raga sepak bola  dan bulu tangkis

Pria berkumis tebal yang ringan hati dalam membantu kesulitan orang lain ini, melakoni peran hidup kesehariannya dengan sepenuh hati, Dia sangat meyakini falsafah Suro diro joyo diningrat lebur dening pangestuti, sesuatu yang angkara murka pasti kalah dengan kebaikan.

 

  • Kebutuhan Penghargaan


Manusia selain memiliki kebutuhan untuk berinteraksi, juga memiliki kebutuhan terhadap penghargaan dari orang, Biasanya dimanifestasikan dengan rasa hormat, pujian, pengakuan terhadap eksistensi seseorang.

Tentu saja upaya  dapat memenuhi kebutuhan akan pengakuan oleh lingkungan itu memang dituntut kerja keras dan tidak kenal kata menyerah. Bahkan terkadang pengakuan itu baru diperoleh setelah bertahun-tahun berusaha dan mampu menorehkan prestasi gemilang.

Begitu pula manusia dalam memenuhi kebutuhan pengakuan terhadap eksistensi dan prestasi pun bisa dilakukan lewat pencak silat. Paling tidak itulah yang bisa diamati dari kehidupan Suhartono, seorang insinyur pertanian yang pernah menjadi atlet andalan Jawa Timur dalam Pekan Olahraga Nasional.

Mantan atlet yang berkali-kali merebut medali emas di berbagai event kejuaraan pencak silat regional maupun nasional dikenal sebagai pribadi berdisiplin tinggi dan  suka tantangan. Hal itu tampak dari kebiasan tepat waktu dalam berlatih di PSHT. Juga tampak dari sikap yang sangat antusias dalam mengikuti setiap kompetisi. Lulusan Universitas Brawijaya Malang ini, akhirmya berkarier di sebuah pabrik gula di Jawa Timur.

 

B. Perspektif Manfaat Organisasional

Di balik manfaat terhadap eksistensi pribadi seseorang, ternyata pencak silat  juga memiliki manfaat berdimensi organisasional. Yakni  mampu memberikan nilai guna bagi setiap perguruan pencak silat yang mengembangkannya.

Pada tataran ini manfaat pencak silat sudah memiliki lingkup yang lebih luas dan kompleks, sehingga acapkali dinyatakan memiliki manfaat sosial terbatas.

Bagi banyak perguruan pencak silat, kohesivitas sosial (rasa keikatan bersama) yang terjalin antar peserta latihan, peserta dengan pelatih, pelatih dengan sang guru besar, bahkan dengan para alumnus merupakan suatu nilai kehidupan yang sangat dihargai dan dijunjung tinggi,

Melalui kohesivitas organisasional yang kuat semacam itu, diharapkan kekompakan pemikiran, gerak dan langkah perguruan bisa dicapai. Perasaan kebersamaan dan sepenanggungan pun bisa dimunculkan.

Bila kohesivitas dalam organisasi bisa diwujudkan, tentu saja merupakan sumber energi yang tak mudah surut ataupun hilang dalam melakukan perbaikan, pengembangan dan pembangunan sebuah perguruan pencak silat.

Bahkan bila diamati,  semua perguruan pencak silat di tanah air yang bisa mengembangkan sayap organisasi sampai pada tingkat nasional  ataupun internasional, hampir pasti dilandasi adanya rasa keikatan – kebersamaan yang kuat di antara para anggota, pengurus dan alumnus.

Sayang sekali, secara faktual kohesivitas sosial terbatas yang sedang dibangun dalam sebuah perguruan pencak silat seringkali masih berdampak pada fanatisme sempit di lingkungan akar rumput di tiap-tiap perguruan. Hal ini pulalah yang terjadi selama ini pada  dua Persaudaraan Setia Hati di wilayah Madiun yang masing-masing oknum anggotanya telah bersitegang dan berkonflik selama puluhan tahun tanpa ujung pangkal persoalan yang jelas.

Alhamdulillah, rilis terbaru di situs www.shterate.com  memperlihatkan bahwa dua perguruan “Persaudaraan” itu telah berdamai.

Tentu saja, hal ini merupakan langkah awal dalam memulai babak baru dalam kehidupan bertetangga antar perguruan. sekaligus menjadi angin segar bagi terciptanya lingkungan yang jauh lebih kondusif dan bermartabat.

Toh demikian, langkah perguruan pencak silat mengembangkan kohesivitas dalam organisasi memang layak terus ditumbuh- kembangankan dengan cara-cara yang lebih strategis dan efektif, Misalkan saja teknik penanaman nilai keikatan rasa sewadah sepenanggungan, hendaknya lebih ditekankan pada aspek dialogis, dibanding dengan penggunaan indoktrinasi seperti yang menjadi kebiasaan selama ini.

 

C. Perspektif Manfaat  Sosial

Pada tataran ini pencak silat sebagai sebuah sistem nilai yang telah menempel dan menerobos masuk ke sisi-sisi kehidupan masyarakat di luar dirinya sendiri. Dengan kata lain, nilai-nilai yang terkandung dalam pencak silat benar-benar telah menginspirasi, memotivasi dan mendukung adanya pemikiran, sikap dan tindakan yang membuat kehidupan semakin lebih baik. Juga membuat banyak hambatan terselesaikan dan menyingkirkan rintangan yang menghadang demi perbaikan hidup masyarakat.

Lihat saja, munculnya gerakan Pagar Nusa Peduli Umat yang dijalankan Ikatan Pencak Silat NU Pagar Nusa yang bergerak di bidang kemanusiaan, khususnya penangangan bencana alam (www.pagarnusa-riau.com). Juga kebijakan PSHT  Balikpapan yang mengirimkan 400 pendekarnya untuk membantu menangani bencana alam tanah longsor . (www.shterate.com)

Selain itu, pencak silat juga memberikan andil yang  luar bisa dalam membangkitkan dan menumbuh-kembangkan lagi  rasa nasionalisme yang kadang telah tampak hampir luntur di berbagai kalangan masyarakat, karena banyak terkoyak oleh isu ketidakadilan, ketidakmerataan dan korupsi.

Sungguh, betapa bangga rasa hati melihat berkali-kali merah putih dikibarkan, diiringi lantunan lagu Indonesia Raya  di arena pertandingan cabang pencak silat di SEA Games 2011.

Rasa bangga itu kian menggumpal, tatkala sampai penutupan acara olah raga terakbar se-Asia Tenggara itu, cabang pencak silat tetap merupakan salah satu cabang penghasil emas yang cukup diandalkan bagi kontingen Indonesia. Sedikitnya  para pesilat andalan kita mempersembahkan sembilan medali emas. Berarti, menyapu separoh jumlah total medali emas dari 18 nomor yang dipertandingkan! Sungguh, sebuah prestasi tidak bisa dipandang sebelah mata.

Pada tataran lain, manfaat pencak silat juga bisa meningkatkan gairah  dan semangat perdamaian, serta mempererat hubungan dan antar  bangsa. Setidaknya hal ini didukung sampel empiris dari hubungan negara-negara di Asia Tenggara.

Harus diakui, kohesivitas sosial yang berasal dari  pencak silat yang terbangun melalui keberadaan Persilat (Persatuan Pencak Silat Antar Bangsa) telah memberikan dampak yang menyejukan dalam hubungan bangsa-bangsa  berumpun Melayu di Asia Tenggara. Memang selama ini hubungan di antara mereka terkadang dipanaskan oleh isu-isu pertentangan politik dan pertahanan. Ini berarti bahwa pencak silat mampu mempresentasikan nilai universal yang menjunjung tinggi semangat kebersamaan dan mampu melintasi batas-batas ruang teritorial suatu negara. Bukankah hal ini pantas untuk selalu ditumbuh kembangkan?

Hal itu pula yang memberikan harapan besar bahwa pencak silat akan mampu memberikan nilai positif  terhadap kehidupan umat manusia di masa depan.

 

D.    Konklusi

Nilai-nilai dasar yang terkandung dalam pencak silat yang diajarkan di hampir semua perguruan pencak silat di tanah air pada hakekatnya merupakan kristal kehidupan umat manusia yang diidam-idamkan secara universal. Nilai-nilai yang diajarkan itu tentu akan makin bermakna, apabila segenap warga pencak silat baik secara formal dan informal, menjunjung tinggi dan menjadikan sebagai roh perjuangan dalam kehidupan.

Nilai itu pulalah yang akan menjadi batu ukur, apakah nila-nilai yang terkandung dalam pencak silat hanya indah untuk diwacanakan, ataukah justru telah mampu menyatu dan selalu mewarnai perilaku kehidupan para pecinta seni beladiri asal Indonesia ini.

Tentu saja, banyak nilai kemanusian universal yang terkandung dalam pencak silat yang selalu harus dihidup-hidupkan di lorong-lorong terdalam dari hati dan pemikiran setiap insan persilatan. Terutama sekali nilai yang mempresentasikan cinta terhadap kebenaran dan keadilan, belas kasih kepada sesama, menjunjung tinggi sportifitas dan menghormati keberagaman, yang semuanya akan mendororng terciptanya kehidupan manusia menjadi lebih baik.

Benar sekali, pencak silat memiliki nilai strategis dalam memenuhi kebutuhan manusia lewat manfaat yang diberikan bagi individu, organisasi dan sosial. Lewat tiga persepektif manfaat inilah, seharusnya pencak silat dengan segala nilai kehidupan yang dikandungnya, makin mengokohkan diri menjadi  penyebar nilai-nilai kemanusiaan yang hakiki dalam mewarnai perjalanan bangsa ini.

Sekaligus, mampu meningkatkan kualitas hubungan antar bangsa dalam mendorong dan memberikan manfaat nyata bagi pencapaian kemakmuran masyarakat dunia.(Y)

*Pengamat Pencak Silat

 

 

 

 



 

Forum Sahabat Silat