Uncul Betawi



20120208-uncul-betawiUncul merupakan bagian atau biasa diselipkan pada pertunjukan Ujungan Betawi. Sebagaimana ujungan di daerah lain, yang biasa disebut citikan atau sabetan, ujungan Betawi berupa pertandingan ketrampilan pukul-memukul dan tangkis-menangkis dengan rotan. Uncul berfungsi sebagai rangsangan dan tantangan kepada lawan dalam arena ujungan.

Musik pengiring uncul biasa disebut “sampyong”. Terdiri atas sebuah sampyong, semacam gambang sederhana denga empat bilah terbuat dari bamboo atau kayu, ditambah kentongan bamboo dan tanduk kerbau. Kostum penari uncul, sebagaimana pemain ujungan Betawi tidak ditetapkan. Tetapi umumnya mereka mengenakan celana pangsi hitam, kaos oblong hitam, atau kadang-kadang bertelanjang dada. Sambil memegang pukulan rotan sebesar ibu jari kaki dan panjang 80cm, seorang penari uncul muncul di arena setelah lebih dulu memberi hormat dengan membungkukkan badan. Setelah itu barulah ia menari dengan gerakan-gerakan pukulan, menangkis dengan rotannya, secara berirama dan ditingkahi alunan music sampyong. Ada pula yang menari dengan gerak lucu seperti gerak monyet, untuk memancing dan memanaskan hati lawan.

Pendukung uncul sebagaimana ujungan Betawi, adalah petani. Penyebarannya janya di  Jakarta Timur terutama daerah-daerah yang berbatasan dengan Kabupaten Bekasi. Sedang di Bekasi hampir di semua kecamatan ada, tetapi  lebih diutamakan ujungannya ketimbang unculnya. Tokoh-tokoh uncul di Jakarta antara lain Yakub, Mamad, Peto dan Sapri. Mereka semua sudah lanjut usia.

eng:

Uncul is a part or usually put in a Ujungan Batavienese performance. As like Ujungan in the other area, which usually called Citikan or Sabetan, Ujungan  Batavienese is acompetition of hitting and dodging skill using rattan. Uncul is usually to stimulate and a challenge to the opponents inside the Ujungan arena.

Music that usually complement uncul is called “sampyong”. Sampyong consist of sampyong, a simple Gambang with 4 piles of bamboo or woods, added with bamboo drum and buffalo horn. The costume, as like Ujungan Batavienese player, is free. But they usually wear a black Pangsi , black shirt, or sometimes topless. While hitting a rattan club with the thumb sized diameter and length of 80cm, an Uncul performer present in the arena after giving salutation and bow. After that, then he will dance with hitting move, dodging with his rattan, rhyming and complemented with Sampyong music. Some others are dancing with funny movement like monkey to stimulate and challenge the opponents.

The supporter of Uncul, as like Ujungan Batavienese, is farmers, the distriburion area is only in Eastern Jakarta, especially those which close to the border of Bekasi Regency. While in Bekasi, almost aall district have theirs, but they put more attention on the ujungan than the Uncul. Uncul figure in Jakarta are  Yakub, Mamad, Peto and Sapri, but all of them are old.

 

sumber:
fb note T. Aditya Kurniawan

 

20120208-uncul-betawi