Memadukan Pencak Silat dan Bisnis



Pencak silat bagi Edwin bukanlah sebuah beladiri semata. Tetapi mempunyai ikatan kuat bagi dirinya untuk berbisnis. Dalam pencak silat diajarkan bagaimana menyerang, bertahan, maupun menghindar, yang mana hal ini juga dialaminya dalam berbisnis.

Edwin Hidayat Abdullah dikenal sebagai bisnisman dan konsultan keuangan. Putra dari peneliti senior Taufik Abdullah ini memang sangat getol dalam memasyarakatkan Pencak Silat.

Bagi saya pencak silat adalah salah satu warisan adiluhung yang harus dipertahankan. Didalamnya terdapat berbagai macam filosofi yang sangat berguna bagi siapapun dalam kondisi apapun,” tandas pemilik Art Garden Space ketika ditemui di kawasan Kemang Jakarta.

Sebagai bisnisman, ilmu pencak silat berpengaruh dalam menjalankan bisnisnya. “Silat mengajarkan kepada saya bagaimana menjadi leader. Dalam silat filosofi leader  terdapat dalam berbagai jurus. Juga terdapat dalam fungsi-fungsi panca indera kita. Misalnya ibu jari. Filosofi ibu jari misalnya sangat bermakna dalam kepemimpinan. Dalam setiap tindakan ibu jari selalu mengambil peran yang penting Ibu Jari sebagai induk selalu mengarahkan dan melindungi jari-jari lainnya. Ibu jari bisa mengarahkan jari-jari yang lebih kecil.” Katanya.

Ia menambahkan bahwa dalam silat juga melatih pembantukan karakter. Salah satunya adalah lewat jurus-jurus yang diajarkan.

Lelaki yang  akrab dipanggil Edwin ini mengaku menggeluti silat sejak kuliah. “saya belajar silat sebenarnya belum lama. Mulai aktif sebenarnya ketika kuliah di Universitas Gajah Mada Yogyakarta,” ungkapnya. Menurutnya dalam pencak silat tidak hanya bela diri saja, akan tetapi juga ada seninya. “Pencak silat sebetulnya hanya istilah di Jawa. Kalau di Sumatera tidak ada istilah pencak, adanya silek,” tuturnya.

Edwin bercerita, ketika ia mengikuti sebuah fellowship di Boston, Amerika yang membicarakan tentang bisnis dan spiritual. Ketika itu ia menceritakan tentang filosofi yang ada dalam pencak silat. Ternyata apa yang dikemukakannya itu sangat cocok dengan strategi leadership dalam sebuah perusahaan. “ini yang membuat orang-orang barat kagum dengan pencak silat,” kenangnya.

Hobinya ini membawa Edwin untuk mengembara di berbagai daerah. Ia mengatakan bahwa ada beberapa perguruan pencak silat yang sangat unik dan mempunyai kekhasan tersendiri. Dia mencontohkan di Jawa Barat ada sebuah perguruan pencak yang mengandalkan kemampuan olah jurus yang halus.

Salah satunya adalah bagimana orang yang menyerang kita bisa lunglai sendiri. “Bukan dengan tenaga dalam tetapi dengan jurus silat,” tuturnya sambil menunjukkan sebuah video yang memperagakan hal tersebut. Tidak hanya wilayah Jawa saja yang pernah dijelajahinya untuk memperdalam ilmu silat.  Edwin bahkan pernah mengembara ke Sumatera. “Saya bahkan pernah mencari guru di wilayah dusun-dusun di Minangkabau. Saya mendapatkan satu yang menjadi inspirasi saya hingga kini,” katanya tanpa mau menyebutkan siapa jati diri gurunya itu.

Edwin menguasai beberapa jurus. Diantaranya jurus Golok Seliwa, Cikalong dan Cilik Kemangu Minang. Jurus ini merupakan jurus yang di dapat dari berbagai pengembarannya di wilayah Jawa dan Sumatra. “Dengan silat menjadikan otak saya lebih cerdan dan cara menganalisa sesuatu menjadi lebih baik,” ungkapnya.

Saat ini , Edwin masih sering melakukan latihan. Tiap minggu bersama teman-temanya melakukannya selama 3 kali. “Itupun silat secara fisik. Tetapi kalau silat dipahami sebagai filosofi kehidupan saya latihannya tiap hari,” katanya.

Edwin mengaku, hobi silatnya ini tidak mendatangkan banyak penghargaan. “Bagaimana saya mau dapat piala, ikut lombapun saya tidak pernah,” katanya sambil tersenyum. Saat ini bersama dengan rekan-rekannya membuat sebuah organisasi pencak silat dengan nama Yayasan Sahabat Silat. Organisasi ini mempunyai anggota sekitar 73 perguruan silat yang tersebar di seluruh Indonesia. Tujuannya adalah untuk melestarikan silat sebagai bagian dalam membangun karakter bangsa. “Insya Allah dalam waktu yang tidak lama lagi anggotanya bisa mencapai ratusan perguruan pencak silat,” katanya.

Organisasi ini diharapkan akan mampu mengangkat harkat dan martabat guru-guru silat. “Saya berharap guru-guru silat itu bisa lebih baik dalam kehidupan ekonominya. Mereka telah mewariskan sesuatu yang adiluhung. Seyogyanyalah kita menghargainya secara benar,” ungkap Edwin.

Tulisan ini diketik ulang dari artikel yang dipublish di:
Majalah Swaracinta Edisi 04 Tahun I/ april-Mei 2011 Halaman 60-61

sumber:
facebook Aditya Kurniawan