Silat Betawi Langkah Troktok (SIBELATOK)



Senin, 11 Oktober 2010

MAEN PUKUL TROKTOK DI ULUJAMI

Maen pukul Troktok atau yang di Ulujami biasa disebut dengan "LANGKAH" atau "RONCE" adalah salah satu maen pukul disamping beberapa aliran maen pukul yang ada dan berkembang di Ulujami. Maen pukul ini dibawa ke Ulujami sejak Kong H Dilun mempelajarinya dari Guru Marzuk asal Rawakidang Tangerang. Guru Marzuk adalah seorang guru yang selain dikenal dengan penguasaan teknik-teknik beladiri yang mumpuni beliau juga dikenal dengan kealimannya sebagai seorang ulama.

Kong H Dilun merupakan murid angkatan pertama asal Ulujami yang mempelajari maenan ini yang selanjutnya beliau menurunkan kepada anak-anaknya yang salah satu diantaranya adalah H.M.Syukri. Langkah Kong H Dilun belajar kepada Guru Marzuk kemudian diikuti oleh beberapa anggota keluarga dan kerabat lainnya asal Ulujami. Mereka tersebut diantaranya adalah:

1. Ki Belum(H.Hablum)
2. Ki Inan
3. Kong Awih,Peninggaran Cipulir

Maen pukul yang bagi kebanyakan pemuda betawi khususnya di Ulujami saat itu menjadi semacam menu wajib disamping menu wajib lainnya seperti sholat dan mengaji yang selalu mengisi keseharian mereka. Masyarakat Ulujami yang saat itu pola kehidupannya adalah berkebun/bertani dan juga sebagai penjahit peci(kopiah) tetap berusaha meluangkan waktunya mempelajari maen pukul Troktok ini disela-sela istirahatnya dari kelelahan seharian berkebun/bertani dan menjahit peci.
Alhasil dari sekian banyak murid yang "jadi",Ki Belum adalah salah satu murid asal Ulujami yang diberi kepercayaan oleh Guru Marzuk untuk mengajarkan ilmu maen pukul ini.(menurut informasi dari beberapa murid senior,Ki Belum menyebarkan/mengajar maen pukul Troktok sampai kedaerah Petojo dan sekitarnya,sedangkan H.Seud bin Guru Marzuk yang saat itu menjabat sebagai seorang wedana didaerah Kebayuran/Peninggaran Kebayuran(sekarang Kebayoran Lama) adalah yang mengajar/menyebarkan didaerah Kebayuran itu sendiri dan sekitarnya(Radio Dalam,Lebak Bulus,Kemang dan Terogong...?).

Sementara itu dikediaman Kong H Dilun dimana beliau mengajarkan anak-anaknya kerap kali dikunjungi oleh Ki Belum,Ki Inan maupun Kong Awih. Selain bersilaturahmi biasanya dalam kunjungan mereka tersebut selalu di"bumbui" dengan mengajak H.M.Syukri ber"tukar pikiran",hal ini menjadikan H.M.Syukri selain mendapat pelajaran dari bapaknya juga semakin terasah dengan adanya proses "tukar pikiran tersebut".
Setelah lamanya proses pembelajaran tersebut,H.M.Syukri mulai sering menghabiskan waktunya diluar Ulujami bahkan ia sempat beberapa lama menetap untuk tinggal dibeberapa tempat seperti diKemanggisan(keluarga istrinya). diPasar Baru dan juga di Rawa Bengkel Cengkareng(keluarga kakak-kakaknya) hingga akhirnya ia diminta untuk kembali menetap diUlujami oleh keluarga dan kerabat.
Sekembalinya H.M.Syukri di Ulujami banyak para pemuda menyambutnya dengan minta diajari maen pukul Troktok kepadanya dikarenakan antara lain banyaknya tokoh/guru maen pukul Troktok di Ulujami yang telah wafat juga lantaran adanya perintah dari salah seorang kiai besar diUlujami(KH.Mansur Fathi bin H.Abdul Muin bin H.Buang) yang sekembalinya ia dari "mukim"di tanah suci Mekkah yang menyemangati para pemuda untuk mempelajari maen pukul sebagai salah satu kewajiban membela diri,keluarga dan kampung halamannya.
Sejak itu sanak saudara dan kerabat banyak yang berniat untuk belajar. H.M.Syukri dalam menerima murid-muridnya biasanya ia memerintahkan kepada sicalon murid untuk terlebih dahulu mempelajarinya dari tempat/guru lainnya dengan alasan untuk menghormati para guru yang masih ada,hal ini pernah dialami oleh salah satu murid senior yang bernama Bang Aini ketika bermaksud menyampaikan niatnya untuk minta diajari maen pukul oleh beliau. ia beberapa kali ditolak hingga Bang Aini sempat mempelajarinya(Troktok) dari Kong Awih bahkan ia juga sempat belajar maen pukul dengan aliran aliran yang berbeda,hingga ia pun diterima sebagai murid oleh H.M.Syukri(penampilan maen pukul Troktok pernah ditampilkan distasiun TVRI pada tahun 80-an atas undangan Bapak Eddy Nalapraya. Yang pada kesempatan tersebut Bang Aini yang didampingi H.M.Syukri sempat menampilkan maen pukul Troktok).

Maen pukul Troktok yang diajari H.M.Syukri kepada murid-muridnya ini dimulai dengan "JURUS"(biasa disebut dengan "JURUS ANGIN") yang terdiri dari 4 jurus dasar diantaranya adalah:
1. Jurus Pukul
2. Jurus Deprok
3. Jurus Kancut/Bentak
4. Jurus Kepang/Seliwa
(susunan jurus ini bisa berubah sesuai kemampuan sicalon murid dalam penguasaannya)
Lalu setelah menguasai 4 jurus tersebut lalu dilanjutkan dengan LANGKAH atau rangkaian dari jurus-jurus dasar,yang dimulai dengan langkah 2 dan ditutup dengan langkah 1 berikut susunannya:
1. Langkah 2 Kurung
2. Langkah 3 Kurung
3. Langkah 4 Totok/Colong
4. Langkah 5, terbagi menjadi 2
a. Langkah 5 Sangkol
b. Langkah 5 Tetes
5. Langkah 1, juga terbagi menjadi dua
a. Langkah 1 Silo Macan
b. Langkah 1 Ngayak.
(Sedangkan susunan pada "LANGKAH" ini terdapat sedikit perbedaan pada versi awalnya)
Dan setelah murid dinilai telah "licin" penguasaannya atas jurus dan langkah,barulah ia diberi gerak-gerak sambut/aplikasi.

Berikut beberapa nama/istilah dalam sambut;
1. Kancut/Bentak
2. Patah kaki
3. Cekikan
4. Guntingan
5. Kelim
6. (n)jiret
7. Patah pinggang
8. Junjang
9. Limbang
10. Sabet kaki
12. Bendung Dll
Yang masing-masing gerak sambut tersebut mempunyai bukaannya masing-masing mengimbangi bukaan lawan. Karena pada dasarnya setiap kunci pasti ada bukaannya.

Sementara untuk permainan senjata dalam hal ini H.M.Syukri tidak mengajarkan secara khusus melainkan senjata mengikuti/mengiringi gerak dan jurus. Adapun permainan toya yang diciptakan oleh Kong Awih(konon terciptanya permainan toya ini lantaran kejadian bentrok antara Kong Awih dengan beberapa polisi belanda pada saat itu.yang melahirkan gerak-gerak spontan dalam bertahan dan menyerang) diperkenalkan H.M.Syukri kepada murid-muridnya,namun tidak dijadikan sebagai pelajaran utama.

Gerak jurus,langkah dan sambut yang diajarkan oleh H.M.Syukri kepada murid-muridnya mempunyai sedikit perbedaan dengan gerak jurus,langkah dan sambut pada versi awal maen pukul Troktok ini di Ulujami. Hal ini disebabkan antara lain penekanan H.M.Syukri pada permainan akal yang dibarengi dengan kecepatan dan ketepatan(murni teknik). Akal dalam merespon gerak lawan yang menghasilkan gerak spontan yang cepat dan tepat dalam melancarkan serangan balik kepada lawan dan usaha menempatkan pada posisi selalu siap dalam menghadapi serangan lawan selanjutnya. Pada tahap inilah seorang murid dituntut/dipancing mencari akal bagaimana meladeni lawan dakam posisi yang selalu menguntungkan yang di Ulujami dikenal dengan istilah "Beronce" atau "Ronce" yang diartikan dengan "Selalu sambung tak terputus layaknya anyaman rantai"("semakin banyak akalnya,semakin banyak bukaannya"). Juga pada tahap ini pula H.M.Syukri memberikan kebebasan kepada murid-muridnya untuk menghasilkan gerak-gerak yang spontan dalam menghadapi serangan yang tidak terpaku pada apa yang selama ini diajarkan. Untuk lebih lanjutnya beliau memberikan penilaian mana yang boleh dipakai dan mana yang tidak dengan prinsip pakai,mana yang menguntungkan dan tinggalkan mana yang merugikan. Serta memberikan pilihan-pilihan tersebut kepada murid-muridnya. Prinsip ini juga yang menjadikan ada sedikit perbedaan dengan Troktok pada versi awalnya di Ulujami.

Sedangkan ritual "Ngonde" pada maenan ini yang dijadikan sebagai penutup keseluruhan pelajaran maen pukul ini mulai ditinggalkan oleh H.M.Syukri sejak beliau mulai mengajarkan maen pukul ini.

Beberapa hal penting yang selalu diajarkan H.M.Syukri,antara lain:
1. Semua jenis dan aliran maen pukul itu baik dan bagus semua. Tinggal bagaimana yang mempelajari mengamalkannya(Kong H Dilun).
2. Tinggalkan yang sekiranya merugikan bagi kita, dan pakai yang sekiranya menguntungkan bagi kita.
3. Ambil yang ada didepan mata, Jangan kejar yang jauh.
4. Jangan pernah meng"ecer"/"keteng" jika menghadapi situasi yang berbahaya, langsung "borong" saja. dll.

Mengingat sejarah maen pukul Troktok di Ulujami dari dulu hanya disampaikan dari mulut kemulut saja tanpa ada pencatatan yang jelas mengenai ini. Akhirnyapun beresiko melahirkan beberapa versi cerita/sejarahnya, begitu pula pada susunan sanad/silsilah pada maenan ini. berikut beberapa versi sanad/silsilah yang ada dikenal diUlujami;

A. 1. GURU MARZUK
A. 2. -Kong H dilun -Ki Belum -Kong awih -Ki Inan
A. 3. H.M.Syukri

B. 1. Lie Ceng Oek
B. 2. Guru Marzuk
B. 3. -Kong H.Dilun -Ki Belum -Kong Awih -Ki Inan
B. 4. H.M.Syukri.

C. 1. Guru Marzuk
C. 2. -Ki Belum -Kong Awih
C. 3. H.M.Syukri

Dari 3 versi sanad/silsilah yang ada dan dikenal di Ulujami,sanad yang pertama(A) lebih diyakini keakuratannya dibandingkan dengan versi kedua(B) dan ketiga(C). Adapun penyebutan nama besar Lie Ceng Oek yang notabene BEKSI pada sanad/silsilah versi 2(B) semata mencoba menampilkan apa adanya sesuai dengan apa yang ada dan berkembang di Ulujami,tanpa ada maksud lain/tertentu.

Berikut beberapa nama murid-murid senior yang tersisa dan masih aktif di Ulujami;
1. M.Nashri bin H.M.Syukri(Bang Nashri)
2. Otong al Hasan bin Acing S(Bang Otong)
3. Aini bin M.Dahlan(Bang Aini)
4. Suryadi(Bang Ewa)
5. Adang Kurnia(Bang Engkur)

Akhirnya tulisan ini hadir dimaksudkan sebagai pelengkap dan sekaligus sebagai koreksi atas kekhilafan-kekhilafan pada catatan saya di Facebook yang dicopaskan ke Sahabatsilat.Com dan situs lainnya,meskipun tidak tertutup kemungkinan pada tulisan inipun terdapat beberapa kesalahan mengingat data-data yang minim dan tradisi lisan dalam penyampaiannya selama ini.
Setidaknya,hadirnya tulisan ini semoga menjadi motivasi generasi muda khususnya betawi untuk lebih mencintai budayanya sendiri agar dirinya tidak menjadi "asing" ditengah ruang redup dengan sorot lampu yang kerlap-kerlip...kerlap-kerlip...kerlapnyapun kerlip...

Ulujami,13 10 10
Lukman Syukri

sumber:
http://www.facebook.com/group.php?gid=253409069847