Pencak Silat dan Pramuka, Kenapa Tidak?



Menpora menerima penyematan PIN Sahabat SilatAda hal yang menarik pada acara peresmian Gedung Sekretariat Pramuka Kwartir Cabang Cianjur yang dilakukan oleh Menteri Negara Pemuda dan Olahraga yang dilanjutkan dengan acara peletakan batu pertama pembangunan Bale Kitri oleh Gubernur Jawa Barat H. Akhmad Heryawan 18 Maret 2010 lalu, di mana acara yang ditampilkan adalah merupakan tiga pilar budaya yang ada di daerah Cianjur yakni Ngaos, Mamaos dan Maenpo.
Ngaos yang dalam bahasa Sunda berarti mengaji dan mengkaji yang dalam implementasi keseharian dapat diartikan sebagai mencari ilmu, sementara mamaos adalah tembang Cianjuran yang diartikan sebagai berkesenian dan maenpo adalah seni bela diri atau dapat juga diartikan sebagai bagian dari pertahanan dan ketahanan. Ketiga pilar budaya ini adalah merupakan cerminan dari masyarakat daerah Cianjur.

Berkaitan dengan pencak silat, sebagaimana kita ketahui daerah ini adalah salah satu tempat lahirnya beberapa aliran besar dalam percaturan pencak silat tanah air, maenpo sendiri adalah istilah setempat yang memiliki kesamaam arti dengan seni bela diri pencak silat. Penampilan pramuka mulai dari anak hingga dewasa yang mempertunjukan pencak silat merupakan hal yang positif dalam mengupayakan kembali pencak silat tetap di hati masyarakat kita. Terlepas dari penilaian tampilan tersebut, merupakan hal yang elok dan pantas kiranya jika setiap tempat yang merupakan sumber pencak silat tetap dengan bangga memperlihatkan apa yang dimilikinya. Keengganan pemerintah setempat menampilkan pencak silat baik secara utuh apa adanya maupun sebagai seni pertunjukan sedikit banyak dapat berpengaruh pada perkembang pencak silat itu sendiri.



Pramuka SilatCianjur adalah salah satu daerah yang dengan bangga mau memperlihatkan pada khlayak ramai bahwa daerah ini konsens pada usaha pelestarian budaya terutama pencak silat atau maenpo. Pemerintah Daerah Kabupaten Cianjur membuka pintu keleluasaan pada setiap usaha pelestarian pencak silat, ini dibuktikan dengan diberikannya porsi waktu dalam acara tersebut bagi para anggota dari Komunitas Sahabat Silat dan sahabat dari ESI (Enslikopedi Silat Indonesia) juga mengundang Bapak Eddie Marzuki Nalapraya yang sekaligus memberikan ucapan terima kasih atas usaha yang dilakukan PERSILAT dalam mempromosikan maenpo Cikalong ke luar negeri. Ketika awal acara, kebingungan menyelimuti kami (Sahabat Silat) karena bagi beberapa anggota acara ini jauh dari harapan tentang gayung bersambutnya promosi pencak silat yang kami lakukan dihadapan para pejabat. Meski diselingi pemutaran film dokumenter mengenai Maenpo Cikalong disela acara makan pagi rombongan Menpora dan rombongan Gubernur Jawa Barat namun target pencapaian ini menurut saya pribadi sangat minim dan tidak memuaskan. Mungkin ini terjadi karena sempitnya waktu dan urusan yang berkaitan dengan protokoler.

Pada saat di lapangan Gedung Sekretariat Pramuka Kwartir Cabang Cianjur, dan berbagai acara  kesenian ditampilkan, sungguh suatu hal yang mengejutkan baik bagi kami dari anggota Komunitas Sahabat Silat maupun ESI, ternyata kami diberikan waktu yang lebih leluasa selain untuk menyematkan pin Sahabat Silat dan Gerakan Peduli Silat pada Menpora, Gubernur Jawa Barat, Bupati dan Wakil Bupati juga sempat menitipkan pesan bahwa telah dimulai Gerakan Peduli Silat dari tempat ini pada Menpora dan Gubernur Jawa Barat. Ini bukanlah omong belaka, karena sepenuhnya gerakan ini ternyata diamini oleh Wakil Bupati DR.H.Dadang Sufianto, Drs., MM yang telah memberitahukan bahwa daerah Cianjur menjadi salah satu daerah yang akan memasukkan pencak silat atau maenpo dalam kurikulum muatan lokal dari sekolah dasar hingga sekolah menengah atas. Dan acara ini merupakan suatu penegasan bahwa daerah Cianjur sungguh-sungguh dalam melestarikan maenpo bukan sekedar slogan belaka. Dalam acara tersebut juga tampil Wakil Bupati memperlihatkan kepiawaiannya dalam memainkan kendang penca yang disambut gegap gempita hadirin yang hadir.

CikalongKetika selesainya acara ini, menjadi bahan renungan bagi kita bahwa sangat diperlukan kecerdasan dalam usaha pelestarian pencak silat. Mengkolaborasikan kegiatan kepanduan (Pramuka) di tanah air dengan pencak silat adalah ide sederhana cemerlang yang merupakan suatu simbiosis mutualisma. Karena keduanya selain sebagai wahana pendidikan bagi anak bangsa juga untuk memperdalam rasa kecintaan pada tanah air yang sudah barang tentu ada pada kedua kegiatan ini. Tak pelak lagi memasukkan ide sederhana yang ada di depan kita dapat menjadikan begitu besarnya jumlah pesilat di tanah air yang kini dilanda krisis minat. Jika kabupaten Cianjur memiliki sekitar 143,853 personil yang tersebar pada 32 kwartir ranting dan 2894 gugus depan. Bisa kita bayangkan jika semua potensi kabupaten / kota di Indonesia kompak melakukannya dan minimal 25% keberhasilan, bukan hal yang mustahil jika dalam beberapa tahun kedepan baik jumlah, kompetisi, kejuaraan bahkan festival pencak silat sekalipun pasti akan ramai. Dan dengan banyaknya pesilat tentunya akan semakin banyak berbagai kejuaraan, rotasi kejuaraan yang banyak tentunya akan menambah jam terbang jga  keahlian pesilat menjadi atlit....bukan hal mustahil kejayan pencak silat yang terhempas akan dapat kita rebut kembali.

Nah, bisakah Pencak Silat bergandeng tangan dengan Pramuka untuk kemajuan keduanya?
Kenapa Tidak ....


Jakarta, 21 Maret 2010

Iwan Setiawan
Anggota Komunitas Sahabat Silat dan ESI