Mendiknas Protes Tayangan Smack Down



JAKARTA, SELASA--Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Bambang Sudibyo menilai tayangan smack down yang mempertontonkan adegan brutal sangat tidak mendidik dan telah menuai protes dari masyarakat.

Karena itu, sebaiknya pengelola televisi belajar UU Sisdiknas sebelum menayangkan suatu acara, apalagi sifatnya kekerasan seperti smack down, kata Bambang kepada pers usai beraudiensi dengan Pemenang Sayembara Penulisan Naskah Buku Bacaan Tahun 2006 di Gedung A Depdiknas, di Jakarta, Selasa (28/11).

Dalam UU Sisdiknas, menurut Bambang, proses pendidikan berlangsung dari jalur formal dan informal, di mana televisi merupakan pendidikan jalur informal yang memiliki tanggungjawab sama terhadap proses pendidikan.

Bambang mengakui banyak televisi yang kurang menyadari kandungan dari acara-acara yang ditayangkan. Padahal setiap acara yang ditayangkan televisi memiliki peran besar terhadap pendidikan informal. Jadi ketika acara sedang ditayangkan, sebetulnya proses pendidikan itu sedang berlangsung. Dan anak-anak otomatis sedang ikut mempelajarinya, katanya.

Karena itu, sebaiknya pengelola televisi tidak hanya mempertimbangkan aspek %@!#$&nya atau komersil murni dalam memilih jenis tayangan atau acara. Aspek mendidik juga harus dikedepankan terutama terhadap anak-anak, katanya.

Selain tayangan smack down, banyak keluhan yang disampaikan masyarakat soal tayangan kekerasan di televisi. Umumnya tayangan tersebut sangat tidak mendidik anak-anak.

Pada kesempatan terpisah, pimpinan DPR mendesak Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) agar segera mengambil sikap dan memutuskan tindakan terhadap tayangan smack down, sehubungan dengan adegan dalam tayangan di televisi swasta nasional itu telah banyak ditiru dan menelan korban jiwa.

Desakan itu disampaikan Ketua DPR, Agung Laksono, dan Wakil Ketua DPR, Zainal Maarif, di Gedung DPR/MPR Jakarta. Agung menyatakan, tayangan smack down sebaiknya segera dilarang, karena telah menelan korban. Dalam kaitan ini, KPI harus berani bertindak cepat agar tidak ada korban-korban berikutnya.

Selain itu, pengelola televisi sebaiknya juga memikirkan dampak dari tayangan yang mereka sajikan. Sedangkan Zainal mengingatkan bahwa televisi bukan hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga pendidikan. Karena itu, pengelola stasiun televisi sebaiknya memikirkan aspek pendidikan dan tidak hanya mengedepankan kepentigan hiburan.(Antara)

Laporan Wartawan Kompas Yulvianus Harjono
BANDUNG, KOMPAS--Pihak Lativi bersikukuh tidak akan menghentikan tayangan gulat ?Smack Down?, meski banyak pihak yang memprotes. Berdalih pedoman perilaku penyiaran, Lativi hanya akan melakukan perubahan jam tayang serta penayangan peringatan dini.

?Sesuai pedoman prilaku penyiaran, khususnya Pasal 39 ayat (2), kami telah melakukan perubahan jam tayang menjadi 22.00 WIB (sebelumnya pukul 21.00 WIB). Untuk sementara, hasilnya demikian. Besok, rapat akan dilanjutkan di KPI Pusat,? ujar Manajer Humas Lativi Raldy Doy usai rapat klarifikasi dengan Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Barat, Senin (27/11).

Menindaklanjuti teguran KPID Jabar sebelumnya, lebih jauh Raldy menjelaskan, pihaknya juga telah memperketat upaya peringatan dini melalui pencantuman label ?dewasa? dan running text bertuliskan ?tidak untuk ditonton anak-anak maupun ditiru? dalam penayangan program Smack Down berikutnya.

Untuk memperkuat langkah preventif, pembawa acara (host) ke depannya juga akan selalu diingatkan untuk menyosialisasikan peringatan dini tersebut kepada penonton, baik sebelum maupun saat berlangsungnya acara. ?Nah, sejak Sabtu (25/11), kalau bapak-bapak sekalian memerhatikan, kami juga telah menyisipkan filler (semacam iklan) yang berisikan dialog orang dewasa dan anak mengenai tayangan ini,? tambahnya.

Dalam kesempatan sama, Ketua KPID Jabar Dadang Rahmat Hidayat menegaskan, penyesuaian jam tayang dianggap tidaklah cukup. Sesuai sikap semula, pihaknya tetap bersikeras meminta penghentian tayangan program yang berlisensi World Wrestling Entertainment (WWE) ini.(kompas)

Beladiri atau kekerasan.
Acara Smack Down memang cukup populer dikalangan remaja, orang tua bahkan anak-anak. gaya kepahlawanan yang ditampilkan memang menjadi daya tarik anak-anak untuk menirunya, sayangnya anak-anak umumnya masih belum mengerti mana yang baik dan mana yang berbahaya.

Wajar bila acara Smack Down menuai protes terutama kalangan orang tua, bila di tinjau dari seni beladiri Smack Down memiliki kekhasan beladiri yang menonjol sajian yang fulgar ini membuat sebagain orang mempelajari teknik-teknik yang diperagakan untuk hiburan. sayangnya acara ini juga terlalu diwarnai oleh kekerasan dan teknik yang mematikan, bila ditiru oleh orang awampun akan sangat bahaya.

www.silatindonesia.com


Related Tags :