Seniman Betawi Berharap Pemerintah Lakukan Pembinaan Secara Kontinyu



Seniman Betawi Berharap Pemerintah Lakukan Pembinaan Secara Kontinyu


Foto: Wawan

Di tengah hiruk pikuknya berbagai jenis tontonan sebagai perpaduan antara seni olah vokal dan seni tari di berbagai stasiun televisi swasta ternyata di kota Jakarta masih ada jenis kesenian tradisional yaitu kesenian Betawi. Gambang Kromong, Tari Topeng Blanteng, Marawis, Seni Pencak Silat yang dipadukan dengan musik merupakan bagian dari budaya masyarakat Betawi yang masih bertahan di daerah Cagar Budaya Betawi Condet Kelurahan Balekambang, Kecamatan Kramatjati sampai saat ini

Berbagai harapan dan gagasan dituturkan para pelaku seni budaya betawi tersebut kepada Media Online Jakarta Timur, saat acara Festival Condet dan Cagar Budaya Tahun 2004, Selasa kemarin (30/11).

Salah satunya Entong Sapri, warga RT 07/05 Kelurahan Batuampar yang telah menggeluti seni pencak silat sejak dirinya masih remaja dan kini menjabat sebagai ketua Ikatan Pencak Silat Olahraga dan Silaturahmi (Iposi). ?Umur saya sekarang 72 tahun jadi saya berkecimpung di seni pencak silat sudah sekitar 50 tahun,? katanya.

Lebih lanjut dirinya berharap kepada pemerintah untuk memperhatikan para seniman betawi dengan mengadakan pembinaan dan menggelar berbagi festival rutin setiap tahunnya sebagi ajang kreativitas dan apresiasi seninya. ?Jadi seni budaya betawi tidak hanya tampil di sini (Condet-red) tapi bisa tampil di hotel berbintang,? ungkapnya.

Entong Sapri atau orang lebih mengenal dengan nama Entong Arek mendalami seni pencak silat dengan maksud untuk menolong orang kecil sesuai dengan yang diajarkan agama yang dianutnya yaitu Islam. ?Ilmu yang kita miliki untuk diamalkan demi kepentingan orang banyak,? tuturnya.

Bapak dari 5 orang anak laki-laki dan 3 orang perempuan ini lebih lanjut menuturkan mengenai masalah semakin sempitnya lahan di kota Jakarta karena penggusuran. ?Soal penggusuran oleh pemerintah saya sih setuju asalkan demi kemajuan pembangunan yang dapat mengangkat harkat dan martabat orang banyak,? tuturnya lagi.

Namun Entong Sapri merasa prihatin terhadap warga asli Jakarta yang menjual warisan keluaraga untuk kesenangan pribadi/berfoya-foya. ?Kalau untuk bersekolah sih itu bagus. Alhamdulillah saya memiliki seorang anak yang laki-laki yang bernama Ahmad Zainudin sebentar lagi merampungkan kuliahnya di Universitas Bung Karno (UBK). Kalau Allah mengizinkan anak saya akan jadi seorang arsitek,? tambahnya.

Sumber : http://www.jaktim.beritajakarta.com/BeritaDetail.asp?Mdl=1&IDKat=4&ID=11779

www.silatindonesia.com



Related Tags :