Berkelebat Menebar Silat





Di negeri orang, mereka menebarkan bela diri tradisional Indonesia itu dengan kegigihannya sendiri.



Bertopeng kingkong, Yuli Purwanto, 47 tahun, tangkas memainkan beberapa jurus pencak silat di panggung. Gerakannya lincah. Kadang terlihat lentur meliuk, acap kali berkelebat cepat. Diiringi iringan kendang nan rancak, penampilan pria yang akrab dipanggil Ipung ini memang memikat. Di puncak aksinya, Ipung kemudian menyurukkan wajahnya ke selembar batik yang dihamparkan di panggung, topengnya dilepas, lalu tampillah wajah aslinya dengan kain batik yang dibikinnya menjadi udheng.

Gerakan pencak silat Ipung itu bisa dinikmati pemirsa di mana pun lewat situs YouTube. Dari situs ini pula wawancara Ipung dalam bahasa Jepang dengan televisi pemerintah nasional Jepang, NHK, bisa diakses. Di tayangan ini Ipung menjawab segala hal soal silat.

Jangan heran jika Ipung membicarakan silat dalam bahasa Jepang. Dia, bersama Soesilo Soedarmadji dari perguruan Perisai Diri dan Djaja dari Panglipur, adalah penyebar seni bela diri tradisional Indonesia itu di Jepang 13 tahun lalu. Ini tentu menjadi petualangan menarik bagi ketiganya. Maklum, negeri itu sudah punya tradisi bela diri sendiri yang berusia panjang, yakni karate, judo, kendo, aikido dan ju-jitsu.

Tantangan lain adalah adanya persoalan bahasa dan budaya yang berbeda. Tapi ketiga pendekar itu tak putus asa, apalagi dukungan moril dari Ikatan Pencak Silat Indonesia cukup kuat. Ini masih ditambah adanya dukungan dana dari Bimantara pada tiga tahun pertama. "Setelah itu, bergantung pada iuran peserta," kata Ipung.

Penyebaran pencak silat di Jepang dimulai dari masyarakat Indonesia, sekolah-sekolah Indonesia, dan karyawan Departemen Luar Negeri. Penyebaran ke khalayak banyak dan penggemar bela diri dilakukan dengan cara memperbanyak pergelaran. Pergelaran-pergelaran itu rupanya cukup ampuh. "Gerakan meliuk-liuk seperti tarian dalam kembangan diiringi musik tradisional Indonesia sangat menarik khalayak," kata Ipung.

Untuk menarik praktisi bela diri, Ipung berduet dengan Soesilo menggelar pertunjukan di dojo (tempat latihan karate) dan pemusatan aikido serta bela diri setempat lainnya. Tak disangka, "Mereka welcome," kata Ipung. Mereka tertarik justru karena gerakan silat yang lentur sekaligus kaya tipuan dan kuncian. Ini berbeda dengan bela diri Jepang, yang berkarakter kaku-keras.

Melihat perkembangan menarik itu, televisi lokal, yakni NHK dan Fuji TV, kerap menayangkan olahraga silat. Silat juga ditampilkan di festival rutin yang digelar di kelurahan-kelurahan dan di masa liburan pada Juli-Agustus. Silat pun sudah masuk agenda rutin festival setempat. Ipung kini memiliki dua asisten pelatih Jepang, selain asisten pelatih

Indonesia.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Ipung bekerja sebagai staf lokal Kedutaan Besar RI. Ia juga disokong istrinya, seorang perempuan Jepang.

Tak hanya di Jepang, para pendekar pencak silat Indonesia juga merambah Thailand. Bahkan di Negeri Gajah Putih ini, perkembangannya lebih pesat. Bayangkan, di arena SEA GAMES 2007 di Thailand, para atlet pencak silat negara ini menyabet empat emas. Perolehan ini cuma beda tipis dari Indonesia, yang meraih lima emas.

Pelatih nasional sekaligus penyebar pencak silat di Negeri Gajah Putih adalah O'ong Maryono, 56 tahun. Juara dunia silat dan taekwondo itu menyebarkan silat sejak sembilan tahun lalu. O'ong, yang juga belajar karate, judo, aikido, ju-jitsu, dan taekwondo, menyebarkan silat dengan mempertimbangkan budaya setempat.

Di kawasan yang beragama Buddha, bekas pegawai pemerintah daerah Amsterdam itu menebarkan silat sebagai sport. Di daerah-daerah yang kuat memegang Islam, lelaki Bondowoso, Jawa Timur, ini menggunakan cara konvensional, yakni mengajarkannya sebagaimana perguruan atau pesantren-pesantren di Indonesia. O'ong juga memanfaatkan media massa. "Melalui situs dan televisi setempat," kata O'ong.

Berbeda dengan di Jepang--silat banyak diikuti kalangan dewasa dan praktisi bela diri--di Thailand hampir semua kalangan menyukainya. Dari anak sekolah sampai pemain muay Thai atau Thai boxing, yang mengakar di kasta bawah, ikut menggemarinya.

Kini O'ong, yang tak lagi melatih, mulai melihat rintisannya itu kian berkembang. Pencak silat sudah masuk ke sekolah-sekolah olahraga sebagai mata pelajaran wajib. Sedangkan di sekolah umum dan universitas, silat menjadi pelajaran ekstrakurikuler. Tak hanya itu, di seluruh provinsi kini sudah terbentuk klub pencak silat. Dalam event pekan olahraga nasional Thailand, silat pun menjadi salah satu cabang yang dipertandingkan.

Tangan dingin O'ong memang tak terbantahkan. Sebelumnya, ia menyebarkan silat di Eropa, Filipina, Brunei Darussalam, dan negara Indocina lainnya. Namun, di balik kisah suksesnya itu, O'ong masih memendam harapan bahwa pemerintah Indonesia mau memberikan perhatian pada aktivitas penyebaran pencak silat. Selama ini, "Nggak ada perhatian, (bahkan) nggak ada ucapan terima kasih," kata O'ong. ENDRI KURNIAWATI

http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2009/08/16/Laporan_Khusus/krn.20090816.174015.id.html



Related Tags :