Silat PSRI Syahbandar




-PSRI SYAHBANDAR-




Tangan yang keras, buku kepalan yang hitam menjadi pertanda seseorang pesilat Syahbandar telah mengalami “remuk daging”, sebuah istilah yang familiar di lingkungan Persatuan Silat Ras Aksa Indonesia (PSRI) Syahbandar, sebagai sebuah metode pelatihan kekuatan tangan dengan cara menghancurkan benda-benda keras. Metode ini merupakan pelatihan dasar yang juga menjadi ciri khas perguruan silat ini dalam setiap atraksinya.


Tangan yang serupa dijumpai pula pada sosok Muhammad Nuh ketika bersalaman dengannya, tangan yang dilatih sejak usia 9 tahun lewat gemblengan sang paman Bang Tjatja, yang di kalangan pendekar Betawi dikenal dengan sebutan Tjatja Muhammad Satiri (1904-1983), sebagai pendiri perguruan silat Betawi ini. TM Satiri selain sebagai pendiri PSRI Syahbandar pernah pula menduduki ketua I PPS Putera Betawi dan ketua Dewan Pendekar Betawi angkatan awal, yang didirikan pada tanggal 20 Januari 1972.


Secara organisatoris PSRI Syahbandar lahir di Jakarta pada tahun 1952. Embrio perguruan silat ini sebenarnya telah ada 10 tahun sebelumnya ketika TM Satiri masih berkecimpung dalam kancah perang kemerdekaan, namun situasi dan kondisi pada saat itu tidak memungkinkannya untuk mendirikan sebuah perkumpulan silat. Cita-citanya untuk mendirikan perkumpulan pemuda-pemuda Indonesia yang tangguh dan kuat, mendorong Satiri muda berkelana mempelajari ilmu silat. Ia ini memiliki 7 orang guru silat maupun kebatinan dari berbagai daerah, dua diantara guru silatnya yang dapat diketahui adalah Mbah Djajadipura dan Pak Yosis. Dari Mbah Djajadipura, TM Satiri mewarisi sebuah kitab berisi tentang sejarah dan ajaran pencak silat. Anak Betawi satu ini, disamping menguasai hampir seluruh senjata tradisional juga menguasai senjata rahasia jarum yang ditiupkan dari mulut. Suatu keahlian sangat langka yang dapat dijumpai pada saat ini.



Makna Dibalik Nama PSRI Syahbandar


Secara harfiah Ras berarti etnik atau suku bangsa, Aksa yang berasal dari bahasa Arab memiliki makna luhur, dan dihiperboliskan menjadi besar dan kuat, sedangkan Syahbandar adalah pemimpin yang mengatur segala kegiatan di pelabuhan laut. Pengertian harfiah itu oleh TM Satiri dikembangkan menjadi sebuah makna filosofis kedalam silat ini, dimana di dalamnya terdapat unsur-unsur aliran silat yang ada di Tanah Betawi yang terkenal sebagai kota pelabuhan, dimana tempat berkumpulnya beberapa aliran silat tradisional yang ada di Indonesia. Unsur-unsur silat tradisional itu disatukan (oleh Syahbandar) hingga menjadi satu kekuatan silat yang dimiliki oleh bangsa Indonesia secara keseluruhan, oleh karenanya menjadi Persatuan Silat Ras Aksa Indonesia Syahbandar. Kata pencak sengaja tidak dipakai, karena pencak bagi TM Satiri merupakan seni, sedangkan silat adalah murni bela diri.



gbr. TM Satiri dengan sikap pasang khas PSRI Syahbandar dan Muhammad Nuh dengan jalan Koset-Golok.



Orang mungkin mengira pada awalnya, bahwa perguruan silat Betawi ini adalah Sabandar, namun kenyataannya sangatlah berbeda, baik itu filosofi dan karakter gerakan maupun kaedah silat itu sendiri. PSRI Syahbandar merupakan sebuah perguruan silat yang merangkum aliran-aliran silat tradisional yang ada di Tanah Betawi, sedangkan Sabandar merupakan aliran silat tradisional yang dipopulerkan oleh Mamak Kosim di Sabandar, Cianjur. Sekalipun demikian kaedah silat Sabandar, Kari, Madi, dan Cimande menjadi “ruh” di dalam perguruan silat Betawi ini.


Filosofi utama dalam gerakan silat di PSRI Syahbandar adalah “kasih-terima, terima-kasih”, dengan pengertian setiap serangan yang datang akan diterima dengan mendahului serangan balik ke arah yang paling terdekat. Tidak menutup kemungkinan setiap pukulan atau tendangan yang datang akan “diadu” dengan salah satu bagian tubuh. Oleh karenanya unsur kekuatan dan


kekerasan tubuh menjadi modal utama buat pesilat PSRI Syahbandar. Metode pelatihan pengerasan tubuh (remuk daging) adalah murni penempaan dari latihan fisik, bukan dari hasil pengolahan pernapasan atau tenaga dalam. Menurut A. Sanusi, sesepuh PPS Putera Betawi dan PS Pusaka Jakarta, PSRI Syahbandar jika digolongkan kedalam 4 aliran utama (Mainstream) silat Betawi termasuk kedalam kelompok “Gerak Kuat”. Menurutnya 4 aliran utama silat Betawi itu adalah; Gerak Cepat, Gerak Kuat, Gerak Teguh dan Gerak Rasa.


Jurus PSRI Syahbandar terdiri dari 13 jurus ditambah 20 tepak pukul yang masing-masing pada awalnya memiliki pecahan 4 kurung, 4 kelima pancer, gelombang 9 dan 12. Pada akhirnya dari 20 tepak pukul tersebut diseragamkan menjadi 5 pecahan, yang masing-masingnya memiliki 100 pecahan lagi yang kalau ditotal memiliki 500 pecahan!.


Muhammad Nuh telah lama tidak aktif di PSRI Syahbandar semenjak sepeninggalan sang paman (TM Satiri) di tahun 1984, dikarenakan adanya satu dan lain hal di internal perguruan. Namun keterikatan moral pada perguruan silat Betawi ini begitu kuatnya, sampai-sampai bersedia untuk naik panggung tatkala PSRI Syahbandar beratraksi di berbagai kesempatan, meskipun usia tidak lagi memadai, beliau masih mampu untuk memecahkan benda-benda keras seperti kelapa, batang pompa, dan tiang besi sekalipun. Begitu pula halnya ketika diwawancarai mengenai PSRI Syahbandar, semangatnya kembali menyala sambil memperagakan jurus, jalan dan pecahan Syahbandar yang tekenal cukup rumit.



“The Keris Poesaka”, Film Pencak Silat PSRI Syahbandar


Pada tahun 70an PSRI Syahbandar terlibat dalam pembuatan film silat dengan karakter silat tradisional Indonesia, dengan judul “The Keris Poesaka”. Film yang mengisahkan seputar bela diri pencak silat yang asli Indonesia, dengan tema utama perebutan sebuah keris pusaka yang bernama “Ki Brojol”. Seratus persen bela diri yang digunakan dalam film ini adalah pencak silat dengan setting dan latar belakang Betawi, yang dalam hal ini menggunakan para pendekar dari PSRI Syahbandar. Film ini diproduksi oleh pemerintah kerajaan Belanda, namun sayangnya tidak atau mungkin belum pernah ditayangkan di Indonesia.








gbr. para pendukung film “The Keris Poesaka” usai syuting





Nafas Gang Toapekong dalam PSRI Syahbandar


Secara pribadi penulis berasumsi bahwa pengaruh bela diri Cina (Kuntao) juga merupakan mozaik dalam membentuk “ruh” perguruan silat ini, hal ini dapat dilihat dari gerakan dan nama langkah atau jalan, seperti jalan Cengcorang, Naga Nyebrang dan salam hormat Saowja. Begitupun dengan penggunaan senjata, tampak jelas pengaruh dari senjata beladiri Cina, seperti piauw, teco (trisula), toya dan tombak. Hal ini dimungkinkan dengan lingkungan tempat tinggal TM Satiri sendiri yang dibesarkan di Jalan Laksana Dalam, Gg Toapekong Pasar Baru. Gang Toapekong pada masanya, disamping sebagai kantong imigran Cina, banyak pula dijumpai pendekar-pendekar Kuntao Cina peranakan.



Gbr. Tombak khas PSRI Syahbandar yang diyakini terpengaruh oleh Kuntao.



Beberapa murid TM Satiri diantaranya dikenal sebagai organisatoris di lingkungan masyarakat Betawi, seperti TM Chaidir (alm) yang pernah menjabat sebagai Sekjen PPS Putra Betawi tahun 1987, selain itu terdapat peranakan Tionghoa Djien Djien (alm), Musa, Fachruddin Pane, dan tidak ketinggalan Zainul Arifin yang sampai kini eksis mengusung PSRI Syahbandar dan FORKABI.



Gbr. Sikap pasang Jalan Naga Nyebrang



Tidak terasa waktu telah menunjukkan pukul 22.00 WIB, kami pamit undur diri. Sebagai salam penutup seorang teman dari FP2STI memainkan senjata tombak khas PSRI Syahbandar dengan lihainya, yang menggiring kenangan Muhammad Nuh kembali kepada masa mudanya sebagai seorang pesilat PSRI Syahbandar.


Betawi, 17 Januari 2009 (20 Muharam 1430 H)- (Gusman “Jali” Natawidjaja)


Nara Sumber:


- Muhammad Nuh, murid dan keponakan TM Satiri, PSRI Syahbandar


- A. Sanusi, sesepuh PPS Putera Betawi-PS Pusaka Jakarta



Foto-foto: dok. pribadi



Related Tags :