Cerita Silat "Kong Nizam Sang Jawara"



Mau dengar cerita lucu tentang para sahabat silat diPencak Silat Community - SahabatSilat yang dibuat cerita oleh Sarung Kampret?

Sarung Kampret adalah seorang pecinta silat tradisional yang bergabung di pencak silat comunity Sahabat Silat dengan nama asli Alamsyah. Seorang yang bukan pendekar silat sejati dan berwajah lucu mengemas cerita silat ini sedemikian rupa hingga ngalor ngidul tak tentu arah seenak pikirannya dalam cerita "Kong Nizam sang Jawara".

Sekilas cuplikan cerita silat Kong Nizam sang Jawara :

====

Adapun murid seperguruannya kembali berdiri dengan sikap siap, walau Dbulls dapat berdiri tegak na­mun ia ragu-ragu untuk menerjang tanpa perintah . Ia maklum akan kelihaian manusia siluman ini dan menjadi gentar juga.

“Cuh! Cuhhhhh!” suara orang meludah dan beberapa penonton menyumpah-nyumpah karena mukanya terkena ludah kental yang tak diketahui dari mana datangnya.
“Ho-ho-hah, Kang One jangan berpesta seorang diri!” Suara laki-laki seperti tambur bobrok ini terdengar dan orangnya sekaligus tampak seorang berpakaian seperti pengemis, mukanya keliatan sudah tua dan acak-acakan, mukanya pucat seperti mayat, ram­butnya panjang sampai ke pundak, awut-awutan dan riap-riapan kotor, kumisnya yang jarang-jarang, badannya kurus terlihat ongkang-ongkang kaki di atas pohon melinjo dipelataran Bek Rudyh. Pakaiannya kotor dan penuh tambalan, hanya sepasang sepatunya ma­sih baru. Ia memegang sebatang tongkat butut yang berupa pikulan, duduk di situ dengan gayanya yang pongah.

Dilihat sepintas lalu, ia hanya seorang pengemis kotor biasa saja, malah se­orang pengemis yang tidak normal, se­tengah gila. Hal itu tampak pada muka­nya yang mengerikan, apalagi mulutnya yang lebar dan selalu sedikit terbuka, memperlihatkan giginya yang aneh, gigi yang bercampur warna ke-emas-emasan.

Kembali ia meludah, “Cuh-cuh-cuh!” ke kanan kiri, menjijikkan sekali.
Melihat ini, Lury marah, “Orang tua jorok (kotor), kaukah yang meludahi diriku tadi tadi?”, Luri sang pendekar Keyboard Sakti yang membawa papan yang berbentuk seperti papan cucian marah karena terkena ludah dari orang yang berada di atas nya.

"Anjing !! Apa loe gak kenal Pendekar Keyboard Sakti ?", lanjut dia memaki maki.

“Ho-ho-hah-hah, aku memang suka meludah, biasa meludahi anjing korengan dan kucing kudisan. Lebih suka lagi me­ludahi keledai yang suka bawa papan buat bikin kandang ayam, cuh-cuh!” Mukanya menghadap ke bawah dan ia meludah ke bawah, akan tetapi anehnya, dua kali meludah, dua kali muka Lury sang Pendekar Keyboard Sakti yang berada di sebelah kanannya dalam jarak tiga meter itu terkena sambaran ludah kental yang sebagian memasuki lubang hidungnya. Entah bagaimana ludah itu bisa terbang menyeleweng dan miring.

“Jahanam hina!” Lury pun mana dapat menahan kesabarannya? Dengan kemarahan meluap-luap ia sudah memainkan keyboardnya dan menerjang pengemis itu.

“Ho-ho-ha-hah, untung besar hari ini bisa meludahi mampus keledai pembawa papan buat bikin kandang ayam!” Tiba-tiba terdengar suara keras dan papan di tangan Lury pun sudah terlempar jauh, menimpa batu gunung dan patah menjadi dua. Kemudian Orang gila pengemis itu meludah terus dan tiap kali meludah, Lury pun berseru ke­sakitan. Hujan ludah itu mengenai tubuh­nya, akan tetapi tidak hanya membikin kotor seperti tadi, kini terasa seperti pukulan-pukulan keras yang tepat me­ngenai jalan darah di tubuhnya. Tiap kali Orang gila itu meludah dan mengenai tubuh­nya, ia berteriak mengaduh, kemudian ia menggulingkan tubuh untuk menghindarkan diri. Namun Orang gila itu terus me­ludah, makin keras agaknya karena kini tubuh Lury pun bergulingan seper­ti seekor cacing terkena abu panas dan dari telinga dan hidungnya keluar darah segar!

“Orang gila keji, lepaskan teman kami!” Ywk dan dua orang adik se­perguruannya, Pendekar Danu Sang Pemetik Bunga dan Aguswin cepat mencabut golok dan menerjang pengemis itu. Akan tetapi pengemis itu mengangkat tongkatnya, sekaligus tiga batang golok itu ter­tangkis dan terpental. Sungguhpun tiga orang tokoh kosen itu tidak sampai melepaskan golok masing-masing, namun mereka merasakan telapak tangan
mere­ka sakit dan panas. Terkejutlah mereka. Empat pendekar ini terkenal dengan ilmunya masing-masing yang digerakkan dengan tenaga dalam, kuat bukan main. Akan tetapi sekarang sekali tangkis saja Orang gila ini dapat mem­buat pedang mereka terpental. Padahal mereka adalah orang-orang yang men­duduki tingkat dua, tiga, dan empat di rimba pendekaran, yang paling lihai di bawah guru mereka, Ki Nagapasa!

Sementara itu, Orang gila itu terus me­ludahi tubuh Lury yang kini sudah tak dapat bersambat atau bergerak lagi. Hebatnya, kepala yang suka memakai blangkon jawa itu kini bolong-bolong dan dari situ keluar darah bercampur otak. Pendekar ke empat ini sudah tewas!

“Mana orang goa hydro! Mana pendekar-pendekar bau dari goa hydro?” tiba-tiba terdengar suara dan kali ini suara itu terdengar dari.... bawah! Terlalu hebat peristiwa yang terjadi berturut-turut itu, dan para penonton masih tercengang dan ngeri menyaksikan kematian seorang anggauta rombongan dari goa hydro yang membela bek Rudyh. Sekarang mendengar bentakan dari bawah tanah ini, mereka seketika menjadi pucat dan cepat memandang ke arah suara. Tentu saja pandang mata mereka tertuju ke bawah, karena dari situlah munculnya suara.

"Hehehehehe, Jali Jengki! Dengar itu, Si Manusia Sarung Kampret juga datang. Bakal ramai sekarang!” Raja Begal One tadi kini tertawa dan Si Jali Jengki juga tertawa dan meludah ke kanan kiri.

“Bagus, dan kebetulan orang-orang Perkumpulan Pendekar Goa Hydro berada di sini. Baik sekali. Hayo, Sarung Kampret busuk, perlihatkan diri, apa kau gentar melihat banyak orang-orang Forum?”

Diantara para penonton ditengah-tengah para pendekar ada meneer EricB, Peranakan sinyo belanda sahabat Kong Nizam. Dia dari tadi memperhatikan keadaan.

Mendengar disebutnya Sarung Kampret, muka meneer EricB makin pucat. Ia belum pernah bertemu dengan Sarung Kampret, akan tetapi ia mengenal nama ini yang oleh gurunya disebut sebagai se­orang tokoh hitam yang amat keji dan jahat, malah ada bibit permusuhan de­ngan tokoh-tokoh Pendekar Forum dan semua pendekar yang dikenal dari golongan putih, yaitu sahabat-sahabat meneer EricB.

Terdengar suara menggereng seperti harimau dari dalam tanah dan tiba-tiba tanah berikut batu berhamburan terbang dan tahu-tahu tanah itu sudah berlobang besar. Dari dalam lubang meluncur caha­ya seperti kilat yang terbang ke arah para penonton !!

Para penonton ini ternyata sebagian besar bukanlah orang-orang sembarangan. Tingkat ilmu silat mereka seperti juga orang-orang Perkumpulan Goa Hydro itu, sudah mencapai taraf tinggi sekali. Sekali pandang saja mereka maklum bahwa yang menyambar ini ada­lah sebuah batu-batuan yang amat tajam dan runcing, yang disusul melesatnya bayangan hitam. Cepat mereka berlima melompat ke belakang, mencabut golok dan senjata masing-masing dan menangkis.
“Trang-trang-trang....!” terdengar bunyi nyaring. Bunga api berhamburan disusul melayangnya tiga batu besar yang tajam dan runcing, yaitu tiga batu di antara batu batuan yang bertemu dengan senjata berkilauan itu. Kemudian terdengar jerit mengerikan dan Salah satu penonton, penonton yang bertahi lalat pada hidungnya, telah roboh mandi darah. Dari leher sampai ke perutnya terdapat luka goresan yang panjang, luka kulit saja akan tetapi amat mengerikan. Apalagi kalau mereka melihat lawan mereka yang kini sudah berdiri di depan mereka, benar-benar mendirikan bulu roma.

Dia seorang yang tubuhnya sedang saja, malah agak gemuk. Seluruh badan, kecuali sepasang tangan yang kecil kurus, terbungkus pakaian serba hitam. Mukanya adalah muka cengangas cengenges, wajahnya yang lumayan kelihatan orang tolol kadang bertingkah laku seperti orang cacat mental, semua orang tidak akan menyangka bahwa orang ini yang telah berbuat mengerikan dengan membunuh beberapa penonton yang tidak berdosa, kepala tegak dengan pasang kopiah hitam yang miring tak beraturan, kedua kakinya memakai sepatu hitam pula. Di tangannya tampak sebuah senjata kujang tua yang amat tajam dan runcing, agak melengkung.

Senjata kujang tua itu kini bergerak-gerak ke arah tubuh penonton-penonton yang lain, sekali ber­kelebat tentu kulit tubuh penonton-penonton itu ter­iris robek. penonton-penonton yang terkena sabetan menggeliat-geliat, bergulingan, darah memenuhi tu­buh dan mukanya, namun kujang tua itu terus bergerak, makin lama makin cepat. Em­pat penonton menerjang lagi, yang dua orang termasuk Dolly dan pendekar Hidup menggunakan senjata keris, yang dua orang lagi karena goloknya terlempar, menerjang dengan kepalan. Akan tetapi hebatnya, si orang aneh "Sarung Kampret" ini hanya meng­gerak-gerakkan tangan kirinya dan semua serangan itu tertangkis oleh ujung lengan bajunya. Adapun kujang tua ini di tangan kanan­nya terus bergerak, merangsek pertahanan dolly, serangan yang berputar hebat menimbukan gemuruh petir di sekeliling pertempuran. namun rangsekan ini tak bisa ditolak, kujang tua telah mengiris-iris kulit tubuh dolly sampai cobak-cabik.

Kekejaman yang mendirikan bulu roma. pendekar dolly tak dapat mengerang lagi, tubuhnya berkelojotan, lalu diam. Gerakan kelebat kujang tua juga berhenti dan kini kujang tua itu berkelebatan menghadapi empat penonton dan pendekar hidup yang mengeroyoknya.

Sementara itu, Pendekar Dbulls dan dua orang konsen sudah bergerak mengeroyok si kakek gila Jali Jengki yang melayani tiga orang kosen ini sambil meludah-ludah dan memaki-maki. gerakan tongkat pikulan yang menderu seperti titiran kincir angin berkelebatan menutup segala titik kosong yang menjadi incaran gencaran mereka. Dua orang yang mengeroyok ini adalah wanita yang gagah perkasa di rimba persilatan , siapa lagi kalau bukan : "Putri Teratai dan Black Widow"

Di lain fihak, empat orang tokoh hydro juga mengeroyok si Raja Begal One yang melayani mereka sambil terkekeh-kekeh. Sungguh pertempur­an yang amat seru namun tidak seimbang kekuatannya. Seperti tiga ekor harimau buas yang gila dikeroyok serombongan harimau-harimau gagah saja. Kujang tua di tangan sarung kampret itu menyambar seperti halilintar dan sebentar saja, dua orang penonton terkena angin panas dan sambaran halilintar yang ditimbulkan sudah menggeletak dengan tubuh terbacok hangus ham­pir putus menjadi dua potong, sedangkan hidup dan seorang yang membantunya sudah luka-luka pula.

Siapakah empat orang tokoh hydro yang konsen ini ??

Juga Raja Begal One mengeluarkan ilmu silaman yang mengerikan yang bernama RawaRontok (Candaan Rawa Rontek), badannya yang terluka tiba2 bisa sembuh kembali, dan tangannya yang terpotong tiba2 bisa tersambung kembali. malah sempat telah menewaskan dua orang penonton dengan ketombe-ketombe rambutnya. Tokoh konsen dari lembah hitam ini hanya berdiri te­gak, kepalanya digerak-gerakkan dan ketombe-ketombe dari rambutnya melayang-layang di sekitar tubuhnya, menangkis senjata dan meng­hantam lawan. Jangan dipandang rendah ketombe rambut ini, karena ketika menghantam lawan, ketombe rambut halus dan berbau apek itu seakan-akan telah berubah menjadi butiran butiran pasir yang amat kuat dan beracun.

Jali Jengki (Raja Gila Gembel bermuka aneh), meludah-ludah dan memaki-maki. Ludahnya membikin buta seorang lawan dan menimbulkan asap berlubang bagi yang terkena ludahnya, yang terus ditusuk tongkat kepalanya sehingga mati seketika.

Tiga tokoh konsen lembah hitam seperti penjagal di pemotongan hewan ternak, membunuh membabi buta sambil tertawa-tawa seakan akan berlomba-lomba untuk mendapatkan juara siapa yang bisa membunuh manusia lebih banyak.

=======

Mau cerita lengkap berikut mau tahu comment para sahabat silat??? dapat di temui di link http://sahabatsilat.com/forum/index.php?topic=780.45

-sarung kampret-


Related Tags :